Skip to main content

Ingatan Tentang Pagi

Pagi mengingatkanku pada kelas yang sepi. Hanya ada lemari yang konon berhantu, yang pintunya sering terbuka sendiri. Hanya ada bebunyian sapu lidi si cleaning service yang mendayu-dayu mengorek tanah. Hanya ada tumpukan sampah yang belum di angkut, masih terngiang di depan pintu kelasku. Hanya ada mp3 player yang kuselipkan di saku baju, dan kubiarkan lagu apa saja terputar dari headset yang kusambungkan dengannya. Dan yang terakhir, ada sedikit sisa-sisa keriuhan kemarin yang menjalari setiap sudut kelas kami.

Pagi, juga mengingatkanku pada suara srek-srek kertas yang berlomba-lomba untuk dipenuhi. Saat semalam kami tidak sempat, atau mungkin lupa? Mengerjakan tugas untuk hari itu.

Pagi pun mengingatkanku pada udara dingin yang perlahan menghangat ketika kelas mulai penuh dan ramai. Ketika kabar demi kabar mulai terdengar, ada yang sedang bad mood, ada yang masih berkutat dengan novel tebal yang sudah dibacanya dari kemarin-kemarin, ada yang heboh menceritakan cowok ganteng yang ditemuinya kemarin, ada yang hanya melamun ah mungkin paginya kurang menyenangkan hari itu, ada yang asyik dengan ponselnya entah bermain game, ngetwit, atau smsan? oh! bahkan ada yang masih khusyuk meladeni alam mimpinya, dan di antara semua itu, ada yang asyik memperhatikan mereka semua. Hihi. Saat itu, aku berusaha merekam semuanya dengan baik, karena aku yakin, aku akan sangat merindukan suasana sederhana itu.

Bahkan, pagi mengingatkanku pada sensasi dihujani tatapan penantian yang memang sudah kuprediksi, saat aku-yang bertugas membawa kunci kelas-datang terlambat hari itu.



Miss you so much, Newton!

Comments

Popular posts from this blog

arah rotasi patah hati

Photo by Frames For Your Heart on Unsplash semua bermula saat pelukan kak fa terasa begitu personal. padahal ini cuma salam perpisahan biasa; paling cuma salaman, cipika-cipiki, ucapan "fii amanillah", saling mendoakan keselamatan, udah. tapi semalem, emang beda. selain cipika-cipiki, kak fa peluk aku erat, elus-elus pundakku. hanya saja perhatianku sedang teralih membahas soal umur dengan ummu mary dan musf. habis itu aku ke mobil, kak fa bilang lagi, "fii amanillah, tini", kubalas, "iya kak". aku singgahlah beli gorengan karena udah keroncongan sejak habis salat isya tadi. setelah 3 gorengan kulahap, aku iseng buka hp. liat-liat story orang, rata-rata soal berita duka istri ustadz yang baru saja meninggal. trus tiba di statusnya kak fa. biasa lah, poster-poster kajian. dan di story terakhir, eh.. langsung nyess aku langsung lemess tiba-tiba kenyang. tiba-tiba gorengan dan sandwichku ga menarik lagi. tiba-tiba... kerongkonganku tercekat. si fulan akhirnya...

sebuah self reminder

Sepertinya, saya memang terlalu mudah menyesali sesuatu. Meski sudah berulang kali berusaha untuk berhenti mengatakan "seandainya ga milih ini..." atau "coba tadi nggak ikut, pasti bla bla bla..." dan semacamnya. Padahal, yang kayak gitu tuh bikin capek. Udah mah capek raga dari sononya, ditambah ngeluh dan nyesel kayak gitu jadi makin capek sampai ke batin. That's why, i'm writing this post to remind myself. Based on insight tadi malam, masyaAllah, aku mikir "kalau aku menghakimi keputusanku di masa lalu dengan menggunakan pengetahuan dan pengalamanku di masa sekarang, bukankah itu ga adil?" Karena aku yang sekarang sudah nambah pengetahuannya, sudah tahu akibatnya, sudah tahu lebih banyak daripada aku yang dulu, yang ngambil keputusan itu. Kalau waktu diputar dan aku kembali ke diriku yang dulu, dengan pengetahuan dan pengalaman yang sama, bukankah aku akan kembali mengambil keputusan yang sama? Jadi, ngapain nyesel? Bukankah aku sudah mengambil ...

oh newton, berjuta rasanya

my blog soul tiba-tiba nongol pas denger lagunya Kita Selamanya punya abang-abang Bondan & fade2Black. nih lagu liriknya asli keren bisa bikin gue ngayal, mata ini tiba-tiba basah hiks :") keinget sama Newton, Autis, dan segala macam hal tentang putih abu-abu gue :") ok… detak detik tirai mulai menutup panggung tanda skenario… eyo… baru harus diusung lembaran kertas barupun terbuka tinggalkan yang lama, biarkan sang pena berlaga kita pernah sebut itu kenangan tempo dulu pernah juga hilang atau takkan pernah berlalu masa jaya putih biru atau abu-abu (hey) memori crita cinta aku, dia dan kamu ya, perjalanan menuju hari UN memang jadi terasa seperti detak-detik yang selalu pengen gue slow-motion kan, biar gue bisa ngeliat semua tingkah dan ekspresi NEWTON secara detail, dan merekamnya dengan baik di memori ini. ada rasa bahagia karena langkah selanjutnya menuju universitas impian akan segera terwujud, tapi lebih banyak sedihnya karena harus berpisah dengan tawa me...