Skip to main content

Posts

tentang istiqamah

Recent posts

arah rotasi patah hati

Photo by Frames For Your Heart on Unsplash semua bermula saat pelukan kak fa terasa begitu personal. padahal ini cuma salam perpisahan biasa; paling cuma salaman, cipika-cipiki, ucapan "fii amanillah", saling mendoakan keselamatan, udah. tapi semalem, emang beda. selain cipika-cipiki, kak fa peluk aku erat, elus-elus pundakku. hanya saja perhatianku sedang teralih membahas soal umur dengan ummu mary dan musf. habis itu aku ke mobil, kak fa bilang lagi, "fii amanillah, tini", kubalas, "iya kak". aku singgahlah beli gorengan karena udah keroncongan sejak habis salat isya tadi. setelah 3 gorengan kulahap, aku iseng buka hp. liat-liat story orang, rata-rata soal berita duka istri ustadz yang baru saja meninggal. trus tiba di statusnya kak fa. biasa lah, poster-poster kajian. dan di story terakhir, eh.. langsung nyess aku langsung lemess tiba-tiba kenyang. tiba-tiba gorengan dan sandwichku ga menarik lagi. tiba-tiba... kerongkonganku tercekat. si fulan akhirnya...

bukan tugas kita

Photo by Kelly Sikkema on Unsplash di akhir ayat QS Al-Ghasyiyah (88:26) ada kalam Allah yang membuatku sadar, bahwa kita ini, sebagai sesama hamba, sebenarnya nggak ada hak dan kewajiban untuk menjudge orang lain. judge dalam artian menghakimi, atau istilah lainnya menghisab orang lain. wong kita sama-sama hamba kok. sama-sama nggak tau gimana akhir dari kehidupan kita, termasuk husnul atau khusnul (na'udzubillahi min dzalik).  bunyi ayat dan terjemahannya seperti ini: QS Al-Ghasyiyah ayat 26 itu semacam self reminder banget. sebagai orang yang masih banyak kekurangan, seringkali sengaja atau nggak menghakimi orang lain dengan modal pengetahuan yang minim banget. padahal nggak ada untungnya. malah bikin dosa. astaghfirullah.

sebuah self reminder

Sepertinya, saya memang terlalu mudah menyesali sesuatu. Meski sudah berulang kali berusaha untuk berhenti mengatakan "seandainya ga milih ini..." atau "coba tadi nggak ikut, pasti bla bla bla..." dan semacamnya. Padahal, yang kayak gitu tuh bikin capek. Udah mah capek raga dari sononya, ditambah ngeluh dan nyesel kayak gitu jadi makin capek sampai ke batin. That's why, i'm writing this post to remind myself. Based on insight tadi malam, masyaAllah, aku mikir "kalau aku menghakimi keputusanku di masa lalu dengan menggunakan pengetahuan dan pengalamanku di masa sekarang, bukankah itu ga adil?" Karena aku yang sekarang sudah nambah pengetahuannya, sudah tahu akibatnya, sudah tahu lebih banyak daripada aku yang dulu, yang ngambil keputusan itu. Kalau waktu diputar dan aku kembali ke diriku yang dulu, dengan pengetahuan dan pengalaman yang sama, bukankah aku akan kembali mengambil keputusan yang sama? Jadi, ngapain nyesel? Bukankah aku sudah mengambil ...

standar kebahagiaan

kalau lagi nyetir selalu aja muncul random thought yang alhamdulillah belakangan ini selalu yang baik-baik sih. misal, tadi pas di jalan ke kemenag.  aku keinget betapa dulu aku begitu terganggu dengan masa depanku di bidang pendidikan dan karir. di usia segini, aku baru D3 dan susah banget buat bisa S1. sedangkan teman-teman seusiaku malah sudah ada yang S2. lah aku, S1 aja belum. umur udah hampir kepala 3 tapi hilal untuk bisa kuliah S1 belum juga terlihat. ya, dulu aku rempong banget ngeluhin itu. menganggap itu sangat gawat dan aku harus segera mencari jalan keluarnya. lalu, ketika sana-sini udah mentok, aku jadi stress sendiri. ngerasa diri nggak berguna, salah milih jalan, kembali menyesali keputusanku di masa lalu karena sudah memilih pekerjaan ini. itu, aku yang dulu. sekarang, aku seolah bisa melihat diriku yang dulu. rasanya geli sendiri. kenapa sih tin, gitu aja direpotin? diizinin buat mengganggu hari-harimu? sampai kamu bela-belain konsul ke psikolog soal itu, iya kan?...

doesn't fit me but maybe she does

urusan takdir semuanya sudah tertulis di Lauh Mahfuz bahkan puluhan ribu tahun (ada yang bilang 50.000 tahun) sebelum dunia diciptakan. makanya sekarang (sejak tahu fakta itu) kalau ngeluh ataupun ngotot, rasanya kok lucu aja ya. semacam meributkan sesuatu yang udah plek kudu kayak gitu. mau kita ngoceh 7 hari 7 malam juga ga bakal ada yang berubah kalau emang udah ketulis di Lauh Mahfuz tuh kayak gitu. yes, this is about him again. tapi bisa diterapkan ke hal lain juga, sih. kalau tentang dia, aku mulai menanamkan mindset baru dalam pikiranku; ketika aku dan dia dibuat saling menjauh, sementara kita berdua selalu berdo'a untuk didekatkan pada hal yang kita sukai dan Allah ridai dan terbaik untuk kita, berarti kita memang sesederhana nggak bisa jadi yang terbaik untuk satu sama lain aja. kalau dalam pikiranku selama ini "he's the only one, the one who treat me well, understand me well, knows me well, support me dan selalu paling nyaman kalau udah ngobrol sama dia bisa ceri...

what i've been this far

kalau dihitung sejak akhir juli, berarti baru 3 bulan lebih aku pelan-pelan mulai melangkah ke arah yang kuyakini lebih baik dan benar. sejauh ini, jujur, aku memang merasa lebih tenang sih. jadi lebih banyak buku tentang islam yang kubaca, which is semuanya non fiksi. bahkan, saat ini aku mulai merasa kurang suka dengan cerita-cerita fiksi. bisa gitu ya, tin :D hal-hal yang kadang aku renungkan adalah, salah satunya, tentang pakaian. aku menutup aurat sih, tapi belum tergugah/berani untuk mengubah style berbusanaku. rasanya, mengubah diri dari dalam (mindset, kata hati) itu masih lebih mudah untuk mulai aku lakukan daripada memulainya dari menggunakan jilbab besar atau bahkan sampai bercadar. aku merasa, lebih baik aku benahi dulu bagian dalam diriku, keyakinanku, kebiasaanku, baru pelan-pelan fashionku mungkin akan mengikuti. aku akan lebih merasa pantas untuk menggunakan jilbab besar. sebab, tanggung jawabnya menurutku lebih besar dan tantangannya tentu juga lebih besar. liat nanti ...