Skip to main content

Posts

sela-sela tanya dan gerak-gerik khayal

Recent posts

kalau kamu lupa, sini saya ingatkan

pertama, kriteria yang kamu tetapkan untuk dirimu, itu udah pas dan masuk akal. nggak berlebihan. dan kamu harus percaya, Allah nggak pelit. kamu minta, Allah kasih. maka jangan ragu. kalau yang kamu mau udah ada di kepala, minta. inget, kriteria yang udah kamu tetapkan sejauh ini: sholeh dan bertakwa ini gabisa dinego. kalau ini nggak ada, yang lain nggak ada artinya. nggak ada istilah "nanti bisa dibimbing jadi sholeh". kamu mau berumah tangga--jadi istri, jadi yang dipimpin--bukan mau kontribusi di proyek dakwah. kalau dia nggak ngerti agama, sementara kamu insyaAllah istiqomah untuk terus belajar agama, nanti kamu yang capek ngingetin dia tiap hari. tau halal-haram dasar is a must. atau minimal, kalau dia masih awam, ketika kamu bilang menyentuh yang bukan mahrom itu dosa, dia nggak ngetawain atau ngeles. tapi dia jadi sadar, dan nggak malu mengakui "duh selama ini saya salah. masih banyak yang perlu saya pelajari nih." ---ini kan yang ada di kepalamu, ini respo...

rekonsiliasi dengan diri sendiri

rasa sesal itu ternyata mengendap. ketika akhirnya aku dihadapkan pada permasalahan jodoh ini lagi, ada riak dikit aja, endapan yang halus itu balik lagi ke atas. kenangan menarikku ke sana. ke titik di mana aku merasa, "duh harusnya perjuangin dia, tin!". kebayang gimana sedihnya, gimana aku nangis sendirian, menyesal sejadi-jadinya. menghakimi diriku sendiri, mengapa aku begitu bodoh menyia-nyiakan orang sebaik dan sedewasa dia. ternyata aku masih nyalahin diri sendiri. jadilah aku brainstorming sama meta ai. dan hasilnya lumayan. intinya, kasih batasan. ada hal yang emang bisa aku kontrol, ada yang nggak. yang aku lakukan saat itu: istikharah, nggak ada bohong, nggak ada ngegantung dia. dan diriku yang dulu, bukan aku yang sekarang. dulu, aku belum punya ilmu tentang "apa sebenarnya yang aku cari di pernikahan". ya sekarang pun belum jelas, tapi aku jadi sadar, bahwa mencari tau tentang itu tuh penting. yang nggak bisa aku kontrol: keputusan dia untuk mundur, kek...

melawan rasa malas

from maudy ayunda: perasaan negatif itu sinyal. this is not what i'm supposed to do. this is not what i'm supposed to be with. you know. hati kita tuh kadang-kadang tau. jadi pada saat malas, berarti motivasinya aja belum ada. dan itu yang harus dicari. apa sih, bidang apa sih, pekerjaan apa sih, tempat, situasi, orang, yang memang bisa memberikan semangat itu. karena malas itu bukan sebuah karakter, itu lebih kayak sinyal bahwa kita belum menemukan apa yang benar-benar memberikan kita energi. source: [link youtube] Photo by Chidy Young on Unsplash from felix siaw: orang malas itu karena dia tidak mengerti tentang tujuan apa yang ingin ia raih. jadi kalau ada orang yang sudah merasa sudah meraih tujuan, maka dia biasanya jadi malas. tapi kalau ada sesuatu yang in urgency, dia tau strong why-nya, ada sebuah kekuatan yang besar yang dia tau, kenapa saya harus melakukan ini, itu dia pasti akan rajin. jadi gampangnya, kalau orang itu tahu atas apa dia bertindak, kenapa dia harus be...

tentang istiqamah

Photo by Hayley Murray on Unsplash berbicara tentang istiqamah, kita harus melibatkan 3 unsur: lillah. keikhlasan. tidak ada istiqamah tanpa keikhlasan. jangan sampai kita memperlihatkan ibadah kita untuk dipuji orang. jangan sampai pada saat ketemu dengan keluarga besar, dengan para sahabat, atau teman-teman kita, kita memamerkan amal ibadah kita di ramadan. begitu kita tidak ikhlas, di situlah kita tidak akan istiqamah. billah; tidak ada istiqamah tanpa meminta pertolongan kepada Allah. makanya dalam ayat yang selalu kita baca setiap shalat, "hanya kepada Engkau kami beribadah, dan hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan." jangan pernah berpikir bisa istiqamah kalau kita gak minta tolong kepada Allah. kita ingin istiqamah jadi istri yang baik, banyak-banyak minta tolong sama Allah jadi istri yang baik. kita ingin istiqamah jadi suami yang baik, banyak-banyak minta tolong agar jadi suami yang baik. kita ingin istiqamah tahajud, banyak-banyak minta tolong agar dibangunka...

arah rotasi patah hati

Photo by Frames For Your Heart on Unsplash semua bermula saat pelukan kak fa terasa begitu personal. padahal ini cuma salam perpisahan biasa; paling cuma salaman, cipika-cipiki, ucapan "fii amanillah", saling mendoakan keselamatan, udah. tapi semalem, emang beda. selain cipika-cipiki, kak fa peluk aku erat, elus-elus pundakku. hanya saja perhatianku sedang teralih membahas soal umur dengan ummu mary dan musf. habis itu aku ke mobil, kak fa bilang lagi, "fii amanillah, tini", kubalas, "iya kak". aku singgahlah beli gorengan karena udah keroncongan sejak habis salat isya tadi. setelah 3 gorengan kulahap, aku iseng buka hp. liat-liat story orang, rata-rata soal berita duka istri ustadz yang baru saja meninggal. trus tiba di statusnya kak fa. biasa lah, poster-poster kajian. dan di story terakhir, eh.. langsung nyess aku langsung lemess tiba-tiba kenyang. tiba-tiba gorengan dan sandwichku ga menarik lagi. tiba-tiba... kerongkonganku tercekat. si fulan akhirnya...

bukan tugas kita

Photo by Kelly Sikkema on Unsplash di akhir ayat QS Al-Ghasyiyah (88:26) ada kalam Allah yang membuatku sadar, bahwa kita ini, sebagai sesama hamba, sebenarnya nggak ada hak dan kewajiban untuk menjudge orang lain. judge dalam artian menghakimi, atau istilah lainnya menghisab orang lain. wong kita sama-sama hamba kok. sama-sama nggak tau gimana akhir dari kehidupan kita, termasuk husnul atau khusnul (na'udzubillahi min dzalik).  bunyi ayat dan terjemahannya seperti ini: QS Al-Ghasyiyah ayat 26 itu semacam self reminder banget. sebagai orang yang masih banyak kekurangan, seringkali sengaja atau nggak menghakimi orang lain dengan modal pengetahuan yang minim banget. padahal nggak ada untungnya. malah bikin dosa. astaghfirullah.