rasa sesal itu ternyata mengendap. ketika akhirnya aku dihadapkan pada permasalahan jodoh ini lagi, ada riak dikit aja, endapan yang halus itu balik lagi ke atas. kenangan menarikku ke sana. ke titik di mana aku merasa, "duh harusnya perjuangin dia, tin!". kebayang gimana sedihnya, gimana aku nangis sendirian, menyesal sejadi-jadinya. menghakimi diriku sendiri, mengapa aku begitu bodoh menyia-nyiakan orang sebaik dan sedewasa dia. ternyata aku masih nyalahin diri sendiri. jadilah aku brainstorming sama meta ai. dan hasilnya lumayan. intinya, kasih batasan. ada hal yang emang bisa aku kontrol, ada yang nggak. yang aku lakukan saat itu: istikharah, nggak ada bohong, nggak ada ngegantung dia. dan diriku yang dulu, bukan aku yang sekarang. dulu, aku belum punya ilmu tentang "apa sebenarnya yang aku cari di pernikahan". ya sekarang pun belum jelas, tapi aku jadi sadar, bahwa mencari tau tentang itu tuh penting. yang nggak bisa aku kontrol: keputusan dia untuk mundur, kek...
Riuh di Langit
doa yang kencang tapi lirih. lirih, tapi riuh di langit.