Skip to main content

Posts

rekonsiliasi dengan diri sendiri

Recent posts

melawan rasa malas

from maudy ayunda: perasaan negatif itu sinyal. this is not what i'm supposed to do. this is not what i'm supposed to be with. you know. hati kita tuh kadang-kadang tau. jadi pada saat malas, berarti motivasinya aja belum ada. dan itu yang harus dicari. apa sih, bidang apa sih, pekerjaan apa sih, tempat, situasi, orang, yang memang bisa memberikan semangat itu. karena malas itu bukan sebuah karakter, itu lebih kayak sinyal bahwa kita belum menemukan apa yang benar-benar memberikan kita energi. source: [link youtube] Photo by Chidy Young on Unsplash from felix siaw: orang malas itu karena dia tidak mengerti tentang tujuan apa yang ingin ia raih. jadi kalau ada orang yang sudah merasa sudah meraih tujuan, maka dia biasanya jadi malas. tapi kalau ada sesuatu yang in urgency, dia tau strong why-nya, ada sebuah kekuatan yang besar yang dia tau, kenapa saya harus melakukan ini, itu dia pasti akan rajin. jadi gampangnya, kalau orang itu tahu atas apa dia bertindak, kenapa dia harus be...

tentang istiqamah

Photo by Hayley Murray on Unsplash berbicara tentang istiqamah, kita harus melibatkan 3 unsur: lillah. keikhlasan. tidak ada istiqamah tanpa keikhlasan. jangan sampai kita memperlihatkan ibadah kita untuk dipuji orang. jangan sampai pada saat ketemu dengan keluarga besar, dengan para sahabat, atau teman-teman kita, kita memamerkan amal ibadah kita di ramadan. begitu kita tidak ikhlas, di situlah kita tidak akan istiqamah. billah; tidak ada istiqamah tanpa meminta pertolongan kepada Allah. makanya dalam ayat yang selalu kita baca setiap shalat, "hanya kepada Engkau kami beribadah, dan hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan." jangan pernah berpikir bisa istiqamah kalau kita gak minta tolong kepada Allah. kita ingin istiqamah jadi istri yang baik, banyak-banyak minta tolong sama Allah jadi istri yang baik. kita ingin istiqamah jadi suami yang baik, banyak-banyak minta tolong agar jadi suami yang baik. kita ingin istiqamah tahajud, banyak-banyak minta tolong agar dibangunka...

arah rotasi patah hati

Photo by Frames For Your Heart on Unsplash semua bermula saat pelukan kak fa terasa begitu personal. padahal ini cuma salam perpisahan biasa; paling cuma salaman, cipika-cipiki, ucapan "fii amanillah", saling mendoakan keselamatan, udah. tapi semalem, emang beda. selain cipika-cipiki, kak fa peluk aku erat, elus-elus pundakku. hanya saja perhatianku sedang teralih membahas soal umur dengan ummu mary dan musf. habis itu aku ke mobil, kak fa bilang lagi, "fii amanillah, tini", kubalas, "iya kak". aku singgahlah beli gorengan karena udah keroncongan sejak habis salat isya tadi. setelah 3 gorengan kulahap, aku iseng buka hp. liat-liat story orang, rata-rata soal berita duka istri ustadz yang baru saja meninggal. trus tiba di statusnya kak fa. biasa lah, poster-poster kajian. dan di story terakhir, eh.. langsung nyess aku langsung lemess tiba-tiba kenyang. tiba-tiba gorengan dan sandwichku ga menarik lagi. tiba-tiba... kerongkonganku tercekat. si fulan akhirnya...

bukan tugas kita

Photo by Kelly Sikkema on Unsplash di akhir ayat QS Al-Ghasyiyah (88:26) ada kalam Allah yang membuatku sadar, bahwa kita ini, sebagai sesama hamba, sebenarnya nggak ada hak dan kewajiban untuk menjudge orang lain. judge dalam artian menghakimi, atau istilah lainnya menghisab orang lain. wong kita sama-sama hamba kok. sama-sama nggak tau gimana akhir dari kehidupan kita, termasuk husnul atau khusnul (na'udzubillahi min dzalik).  bunyi ayat dan terjemahannya seperti ini: QS Al-Ghasyiyah ayat 26 itu semacam self reminder banget. sebagai orang yang masih banyak kekurangan, seringkali sengaja atau nggak menghakimi orang lain dengan modal pengetahuan yang minim banget. padahal nggak ada untungnya. malah bikin dosa. astaghfirullah.

sebuah self reminder

Sepertinya, saya memang terlalu mudah menyesali sesuatu. Meski sudah berulang kali berusaha untuk berhenti mengatakan "seandainya ga milih ini..." atau "coba tadi nggak ikut, pasti bla bla bla..." dan semacamnya. Padahal, yang kayak gitu tuh bikin capek. Udah mah capek raga dari sononya, ditambah ngeluh dan nyesel kayak gitu jadi makin capek sampai ke batin. That's why, i'm writing this post to remind myself. Based on insight tadi malam, masyaAllah, aku mikir "kalau aku menghakimi keputusanku di masa lalu dengan menggunakan pengetahuan dan pengalamanku di masa sekarang, bukankah itu ga adil?" Karena aku yang sekarang sudah nambah pengetahuannya, sudah tahu akibatnya, sudah tahu lebih banyak daripada aku yang dulu, yang ngambil keputusan itu. Kalau waktu diputar dan aku kembali ke diriku yang dulu, dengan pengetahuan dan pengalaman yang sama, bukankah aku akan kembali mengambil keputusan yang sama? Jadi, ngapain nyesel? Bukankah aku sudah mengambil ...

standar kebahagiaan

kalau lagi nyetir selalu aja muncul random thought yang alhamdulillah belakangan ini selalu yang baik-baik sih. misal, tadi pas di jalan ke kemenag.  aku keinget betapa dulu aku begitu terganggu dengan masa depanku di bidang pendidikan dan karir. di usia segini, aku baru D3 dan susah banget buat bisa S1. sedangkan teman-teman seusiaku malah sudah ada yang S2. lah aku, S1 aja belum. umur udah hampir kepala 3 tapi hilal untuk bisa kuliah S1 belum juga terlihat. ya, dulu aku rempong banget ngeluhin itu. menganggap itu sangat gawat dan aku harus segera mencari jalan keluarnya. lalu, ketika sana-sini udah mentok, aku jadi stress sendiri. ngerasa diri nggak berguna, salah milih jalan, kembali menyesali keputusanku di masa lalu karena sudah memilih pekerjaan ini. itu, aku yang dulu. sekarang, aku seolah bisa melihat diriku yang dulu. rasanya geli sendiri. kenapa sih tin, gitu aja direpotin? diizinin buat mengganggu hari-harimu? sampai kamu bela-belain konsul ke psikolog soal itu, iya kan?...