Skip to main content

How I escape

Eniwei, saat sedang tertekan, merasa dikekang, atau stress, aku sering 'kabur' dengan berbagai macam cara. Misalnya;

Berbenah kamar/rumah/kosan

image source: pinterest

Entah dengan sihir apa--meski sebenarnya nggak pake sihir apa-apa sih lol--berbenah tuh seringkali berhasil ngasih energi positif ke badan dan pikiranku. Berbenah di sini lebih ke beresin meja, nyapu ngepel, atau sekadar nyuci kaos kaki dan nyuci piring sih. Rasa capek yang terasa setelah aktivitas yang melelahkan itu kayak terapi gratis yang bikin pikiranku tenang, dan perlahan-lahan minta istirahat. Meski lebih sering tidak menyelesaikan masalahku, tapi setidaknya aku merasa produktif karena berhasil membersihkan ruangan, pakaian, dan alat makanku xD

Menulis di kertas/laptop/blog

image source: freepik

Kadang saking dalamnya suatu perasaan, baik perasaan senang maupun sedih, aku sampai tidak bisa berkata-kata di depan kertas maupun laptop. Tapi justru saat stuck begitu, aku akan menuliskan apapun yang terlintas di benakku. Berbeda dengan cara pertama di atas, kalau menulis kadang ada efek besarnya ke masalah yang kuhadapi. Sebab saat menulis, aku akan berbicara pada diriku sendiri. Mengutip kalimat dari Aan Mansyur, "Saya seperti melepaskan kepala saya, lalu memasang kepala lain dan menontonnya menulis." dan dengan begitu, aku jadi punya nasihat untuk diriku sendiri. Aku bisa menenangkan diriku dengan menulis.

Memasak apapun

image source: pixabay

Aku bukan gadis yang jago masak. Tapi saat pikiranku penat, aku kadang memilih untuk memasak apapun yang ada di lemari es, atau di lemari lainnya haha. Kadang aku membuat kombinasi makanan yang menurutku akan cukup lezat, seperti sate sosis-kentang, kol orak arik telur, omelet isi nugget, sampai yang biasa aja seperti nasi goreng, sayur sop, atau sekadar menggoreng telur mata sapi. Keriuhan saat aku menyiapkan bahan, memotong-motongnya, sampai saat aku menunggu masakanku matang, saat-saat itu rasanya aku bisa melupakan sejenak masalah yang kuhadapi. Dan setelahnya aku bisa mengisi perut, tentunya.
Mungkin karena itu ya aku jadi makin berisi. Semakin stress aku akan semakin banyak makan xD

Bikin origami

image source: savingcranes

Terima kasih pada orang yang telah menciptakan seni melipat kertas. Saat aku stuck, butuh ide tapi nggak dapet-dapet, atau jenuh pisan sama rutinitas kuliah-tugas-kerkom-kuliah, aku sering membuat bangau, kupu-kupu, atau bunga di kosan. Sambil mendengarkan musik favorit, kadang tak terasa sampai tanganku sendiri sakit karena terlalu banyak melipat kertas. Btw, bukan cuma di kosan, saat merasa bosan di kelas pun, aku menarik diriku keluar dari kelas melalui origami-origami yang kubuat. Aku menyibukkan tanganku agar tidak ngantuk xD

Menonton ulang film-film favoritku

image sorce: bidadarimagang

Misalnya 3 Idiots, Harry Potter, atau Sherlock Holmes. Nggak produktif sih, tapi cukup menghibur :'

Nonton Tonight Show/Running Man

image sorce: pngtree

Guyonan garing vindest entah kenapa seringkali berhasil membuatku tertawa. Mungkin emang selera humorku receh. Tapi nggak cuma bikin ketawa, di Tonight Show juga banyak inspirasi dan ilmu yang bisa diserap. Tontonan yang mengedukasi sekaligus menghibur, imho.
Beda dengan Running Man. Eniwei, aku bisa kelepasan ngakak kalau nonton reality show yang satu ini. Meski sudah hampir setengah bulan ini aku tidak menonton RM lagi, tapi jaman dulu RM selalu bisa menghiburku dan menarikku 'kabur' sebentar dari kepenatan.

Tidur

image source: pngtree

Yang terakhir ini bikin khawatir sih. Sebab aku pernah membaca, kalau orang yang terlalu banyak tidur itu tanda kalau orang tersebut mulai stress. Dan seringkali aku memang merasa ngantuk, habis mikir dikit, ngantuk, habis keluar bentar, ngantuk. Mungkin aku memang stress ya -_-

Tapi nih yaaa,
too much escaping is not good, right? Because we have to face our problem, no matter what. Kalau ngehindar sekarang, ujung-ujungnya bakal ketemu lagi, kan? HAHA



Comments

Popular posts from this blog

arah rotasi patah hati

Photo by Frames For Your Heart on Unsplash semua bermula saat pelukan kak fa terasa begitu personal. padahal ini cuma salam perpisahan biasa; paling cuma salaman, cipika-cipiki, ucapan "fii amanillah", saling mendoakan keselamatan, udah. tapi semalem, emang beda. selain cipika-cipiki, kak fa peluk aku erat, elus-elus pundakku. hanya saja perhatianku sedang teralih membahas soal umur dengan ummu mary dan musf. habis itu aku ke mobil, kak fa bilang lagi, "fii amanillah, tini", kubalas, "iya kak". aku singgahlah beli gorengan karena udah keroncongan sejak habis salat isya tadi. setelah 3 gorengan kulahap, aku iseng buka hp. liat-liat story orang, rata-rata soal berita duka istri ustadz yang baru saja meninggal. trus tiba di statusnya kak fa. biasa lah, poster-poster kajian. dan di story terakhir, eh.. langsung nyess aku langsung lemess tiba-tiba kenyang. tiba-tiba gorengan dan sandwichku ga menarik lagi. tiba-tiba... kerongkonganku tercekat. si fulan akhirnya...

sebuah self reminder

Sepertinya, saya memang terlalu mudah menyesali sesuatu. Meski sudah berulang kali berusaha untuk berhenti mengatakan "seandainya ga milih ini..." atau "coba tadi nggak ikut, pasti bla bla bla..." dan semacamnya. Padahal, yang kayak gitu tuh bikin capek. Udah mah capek raga dari sononya, ditambah ngeluh dan nyesel kayak gitu jadi makin capek sampai ke batin. That's why, i'm writing this post to remind myself. Based on insight tadi malam, masyaAllah, aku mikir "kalau aku menghakimi keputusanku di masa lalu dengan menggunakan pengetahuan dan pengalamanku di masa sekarang, bukankah itu ga adil?" Karena aku yang sekarang sudah nambah pengetahuannya, sudah tahu akibatnya, sudah tahu lebih banyak daripada aku yang dulu, yang ngambil keputusan itu. Kalau waktu diputar dan aku kembali ke diriku yang dulu, dengan pengetahuan dan pengalaman yang sama, bukankah aku akan kembali mengambil keputusan yang sama? Jadi, ngapain nyesel? Bukankah aku sudah mengambil ...

standar kebahagiaan

kalau lagi nyetir selalu aja muncul random thought yang alhamdulillah belakangan ini selalu yang baik-baik sih. misal, tadi pas di jalan ke kemenag.  aku keinget betapa dulu aku begitu terganggu dengan masa depanku di bidang pendidikan dan karir. di usia segini, aku baru D3 dan susah banget buat bisa S1. sedangkan teman-teman seusiaku malah sudah ada yang S2. lah aku, S1 aja belum. umur udah hampir kepala 3 tapi hilal untuk bisa kuliah S1 belum juga terlihat. ya, dulu aku rempong banget ngeluhin itu. menganggap itu sangat gawat dan aku harus segera mencari jalan keluarnya. lalu, ketika sana-sini udah mentok, aku jadi stress sendiri. ngerasa diri nggak berguna, salah milih jalan, kembali menyesali keputusanku di masa lalu karena sudah memilih pekerjaan ini. itu, aku yang dulu. sekarang, aku seolah bisa melihat diriku yang dulu. rasanya geli sendiri. kenapa sih tin, gitu aja direpotin? diizinin buat mengganggu hari-harimu? sampai kamu bela-belain konsul ke psikolog soal itu, iya kan?...