Skip to main content

[Review Novel] Walking After You - Windry Ramadhina



Judul: Walking After You
Sub Judul: Kau tak perlu melupakan masa lalu. Kau hanya perlu menerimanya.
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagasmedia
Tahun Terbit: 2014
Tebal halaman: viii + 320 hlm; 13 x 19 cm
ISBN: 979-780-772-X
Genre: Romance, Family, Cooking
Format: Paperbook
Selesai baca: Januari 2015

Blurb:

Masa lalu akan tetap ada.
Kau tak perlu terlalu lama terjebak di dalamnya.

Pada kisah ini, kau akan bertemu An. Perempuan dengan tawa renyah itu sudah lama tak bisa keluar dari masa lalu. Ia menyimpan rindu, yang membuatnya semakin kehilangan tawa setiap waktu. Membuatnya menyalahkan doa-doa yang terbang ke langit. Doa-doa yang lupa kembali padanya.

An tahu, seharusnya ia tinggalkan kisah sedih itu sejak berhari-hari lalu. Namun, ia masih saja di tempat yang sama. Bersama impian yang ternyata tak mampu ia jalani sendiri, tetapi tak bisa pula ia lepaskan. 

Pernahkah kau merasa seperti itu? Tak bisa menyalahkan siapa-siapa, kecuali hatimu yang tak lagi bahagia. Pernahkah kau merasa seperti itu? Saat cinta menyapa, kau memilih berpaling karena terlalu takut bertemu luka?

Mungkin, kisah An seperti kisahmu. Diam-diam, doa yang sama masih kau tunggu.

Review:

Anise atau yang lebih senang dipanggil An memiliki kembaran bernama Arlet. Mereka berdua sama-sama suka masak. Bedanya, An senang masakan Italia, sedangkan Arlet lebih senang kue-kue Prancis. Informasi ini diceritakan di bagian prolog dengan mengambil adegan saat Arlet dan An masih anak-anak. Deskripsi hasil racikan Mbak Windry yang melibatkan banyak indera penciuman membuatku seakan-akan bisa mencium aroma-aroma masakah Italia yang disaksikan oleh An. Ini poin yang selalu aku suka dari cara menulis Mbak Windry.

Lalu bab-bab selanjutnya menceritakan An di masa sekarang. Saat pertama kali An datang ke Afternoon Tea untuk bekerja di sana. Diperkenalkan Julian, Galuh, dan Gen yang nantinya memegang peran penting dalam alur cerita. Apalagi si Julian itu. Sebenarnya dari deskripsinya Mbak Windry yang mengatakan Julian itu 'cantik' dan mirip oppa-oppa Korea, aku sudah jatuh hati sebab terlanjur membayangkan Choi Min Ho (saat membacanya dulu aku masih nge-fangirl SHINee yes wkwk). Ditambah sikapnya yang cuek, auranya yang misterius, komplit sudah. Julian ini layaknya tokoh utama pria yang sering dibayangkan oleh penggemar fiksi (tak terkecuali aku).

Bab demi bab akan mengantarkan pembaca ke masa lalu An yang kelam, penyesalannya yang seakan tidak pernah bisa dia sembuhkan, dan rentetan kisah asmara yang cukup tertebak, sedikit menyebalkan, tapi tidak bisa terhindarkan.

Walking After You terasa agak beda dengan novel-novel karya Mbak Windry yang lainnya. Aku sempet ngerasa "bosen" saat baca ini. Buktinya aja aku udah beli tahun 2014 kemarin, pas baru keluar, bacanya baru setahun setelahnya. Aku tertarik beli karena blurbnya nge-jleb banget. "Tak bisa menyalahkan siapa-siapa, kecuali hatimu yang tak lagi bahagia.", ceunah. *deep sigh*

Tapi eh tapi, setelah mulai membaca, ternyata ceritanya tidak sesimple ekspektasiku. Ternyata ini kisah yang lebih pelik, rasa bersalahnya lebih kompleks. Seperti yang pernah aku rasakan saat membaca Memori, bagian di mana Mahoni menjadi orang ketiga dalam hubungan mantannya, ternyata aku rasakan lagi di novel ini. Bagaimana seorang An ternyata telah begitu jahat kepada saudara kembarnya sendiri.

Namun di sinilah uniknya konflik yang dilemparkan Mbak Windry di (mungkin) setiap novelnya. Mengambil sudut pandang dari orang yang biasanya jadi antagonis, si tokoh utama adalah seorang pendosa yang bersembunyi di balik topengnya. Dengan begitu, pembaca diajak untuk berpikir dari berbagai sudut pandang. Sebab kadang, orang yang telah dihakimi oleh mayoritas sebagai orang yang jahat, bisa jadi dia melakukan kejahatannya itu karena adanya niat lain, yaaa yang mungkin nggak jahat-jahat amat. Pfft. You know what I mean lah ya.

Soooo, 3,5 stars untuk buku ini!

Sekian review atau lebih tepatnya cuap-cuap doang kali ya dari saya. bye bye!


Comments

Popular posts from this blog

arah rotasi patah hati

Photo by Frames For Your Heart on Unsplash semua bermula saat pelukan kak fa terasa begitu personal. padahal ini cuma salam perpisahan biasa; paling cuma salaman, cipika-cipiki, ucapan "fii amanillah", saling mendoakan keselamatan, udah. tapi semalem, emang beda. selain cipika-cipiki, kak fa peluk aku erat, elus-elus pundakku. hanya saja perhatianku sedang teralih membahas soal umur dengan ummu mary dan musf. habis itu aku ke mobil, kak fa bilang lagi, "fii amanillah, tini", kubalas, "iya kak". aku singgahlah beli gorengan karena udah keroncongan sejak habis salat isya tadi. setelah 3 gorengan kulahap, aku iseng buka hp. liat-liat story orang, rata-rata soal berita duka istri ustadz yang baru saja meninggal. trus tiba di statusnya kak fa. biasa lah, poster-poster kajian. dan di story terakhir, eh.. langsung nyess aku langsung lemess tiba-tiba kenyang. tiba-tiba gorengan dan sandwichku ga menarik lagi. tiba-tiba... kerongkonganku tercekat. si fulan akhirnya...

sebuah self reminder

Sepertinya, saya memang terlalu mudah menyesali sesuatu. Meski sudah berulang kali berusaha untuk berhenti mengatakan "seandainya ga milih ini..." atau "coba tadi nggak ikut, pasti bla bla bla..." dan semacamnya. Padahal, yang kayak gitu tuh bikin capek. Udah mah capek raga dari sononya, ditambah ngeluh dan nyesel kayak gitu jadi makin capek sampai ke batin. That's why, i'm writing this post to remind myself. Based on insight tadi malam, masyaAllah, aku mikir "kalau aku menghakimi keputusanku di masa lalu dengan menggunakan pengetahuan dan pengalamanku di masa sekarang, bukankah itu ga adil?" Karena aku yang sekarang sudah nambah pengetahuannya, sudah tahu akibatnya, sudah tahu lebih banyak daripada aku yang dulu, yang ngambil keputusan itu. Kalau waktu diputar dan aku kembali ke diriku yang dulu, dengan pengetahuan dan pengalaman yang sama, bukankah aku akan kembali mengambil keputusan yang sama? Jadi, ngapain nyesel? Bukankah aku sudah mengambil ...

oh newton, berjuta rasanya

my blog soul tiba-tiba nongol pas denger lagunya Kita Selamanya punya abang-abang Bondan & fade2Black. nih lagu liriknya asli keren bisa bikin gue ngayal, mata ini tiba-tiba basah hiks :") keinget sama Newton, Autis, dan segala macam hal tentang putih abu-abu gue :") ok… detak detik tirai mulai menutup panggung tanda skenario… eyo… baru harus diusung lembaran kertas barupun terbuka tinggalkan yang lama, biarkan sang pena berlaga kita pernah sebut itu kenangan tempo dulu pernah juga hilang atau takkan pernah berlalu masa jaya putih biru atau abu-abu (hey) memori crita cinta aku, dia dan kamu ya, perjalanan menuju hari UN memang jadi terasa seperti detak-detik yang selalu pengen gue slow-motion kan, biar gue bisa ngeliat semua tingkah dan ekspresi NEWTON secara detail, dan merekamnya dengan baik di memori ini. ada rasa bahagia karena langkah selanjutnya menuju universitas impian akan segera terwujud, tapi lebih banyak sedihnya karena harus berpisah dengan tawa me...