Skip to main content

Day #11: my siblings

aku punya dua kakak perempuan.

dulu, saat usiaku belasan, aku paling dekat dengan kakakku yang kedua. mungkin karena selisih usia kami yang hanya terpaut 4 tahun, sedangkan dengan kakak pertama kami beda 7 tahun. banyak hobi, kebiasaan, dan hal-hal yang kusukai dan tidak kusukai bersumber dari kakak-kakakku. hobi baca komik dan novel karena kakak pertamaku sering pinjem dari temen dan diam-diam membacanya di kamar, aku pun ikutan. kesukaan nonton anime karena sejak kecil aku sering nonton bertiga di depan TV dengan kedua kakakku. kami nonton inuyasha, detektif conan, cardcaptor sakura, sailormoon, ninja hattori, digimon, pokemon, chibi marukochan sampai yang umum banget; doraemon dan crayon shinchan. suka drama korea aja karena ikutan nonton full house sama kakak pertamaku lmao

sekarang kedua kakakku sudah berhenti baca novel dan komik. bahkan novel saku sherlock yang kakakku pinjam pun nggak pernah bisa dia tuntaskan. kalau nonton drakor, kakak pertamaku masih sering. tapi kakak keduaku sudah tidak lagi.

mungkin ini termasuk resiko menjadi bungsu dari tiga saudara perempuan. saat kedua kakakku menikah, aku jadi ditinggal sendiri. mungkin karena itu juga aku jadi lebih suka berada di duniaku sendiri. karena aku merasa sohib yang paling dekat denganku sekarang sudah sibuk dengan dunia barunya. jujur saja, aku tidak merasa kehilangan saat kakak pertamaku menikah, sebab saat itu aku masih SMA dan aku (merasa) belum terlalu dekat dengannya. aku justru merasa kehilangan ketika kakak keduaku menikah. sebab dia jadi terasa jauh. padahal sebelumnya dia teman sekamarku, tempatku bercerita tentang banyak hobi dan hal-hal yang kusukai; cakka, dan SHINee pada masa itu. sepertinya saat itulah aku berubah jadi lebih dekat dengan kakak pertamaku, jadi lebih sering cerita dan meminta pendapatnya tentang apapun yang sedang kuhadapi. 

mereka cukup berbeda, tapi selera humor kami sama. hanya saja terkadang kakak pertamaku terlalu jayus, jadinya langsung krik-krik. kadang juga aku melemparkan lelucon tapi kakak pertamaku tidak paham, harus dijelaskan lagi oleh kakak keduaku. kan jadinya jadi nggak lucu lagi. krik-krik lagi kan -_- lol

aku merasakan perbedaan besar dari kedua kakakku ketika belum lama ini aku curhat tentang pekerjaanku. kakak pertamaku yang cukup andil dalam keputusanku menjalani kehidupan CPNS ini terus menyemangati dan membuatku berpikir bahwa memang ini jalan yang terbaik.

tapi kakak keduaku tidak. dia tidak menghakimi, tidak menilai, tidak juga menyemangati. dia hanya mendengarkan, dan bilang bahwa dengan karakterku ini, memang sulit menjalani kehidupan yang datar begitu. dia juga paham bagaimana ngerinya aku membayangkan harus bekerja seumur hidupku, sebab jalan keluarnya hanya ada dua, pensiun atau mati. ngeri, ngeri.

yang satu terlalu logis, yang satunya terlalu perasa. tapi aku sayang keduanya. my beloved sisters!

Photo by Juliane Liebermann on Unsplash



Comments

Popular posts from this blog

arah rotasi patah hati

Photo by Frames For Your Heart on Unsplash semua bermula saat pelukan kak fa terasa begitu personal. padahal ini cuma salam perpisahan biasa; paling cuma salaman, cipika-cipiki, ucapan "fii amanillah", saling mendoakan keselamatan, udah. tapi semalem, emang beda. selain cipika-cipiki, kak fa peluk aku erat, elus-elus pundakku. hanya saja perhatianku sedang teralih membahas soal umur dengan ummu mary dan musf. habis itu aku ke mobil, kak fa bilang lagi, "fii amanillah, tini", kubalas, "iya kak". aku singgahlah beli gorengan karena udah keroncongan sejak habis salat isya tadi. setelah 3 gorengan kulahap, aku iseng buka hp. liat-liat story orang, rata-rata soal berita duka istri ustadz yang baru saja meninggal. trus tiba di statusnya kak fa. biasa lah, poster-poster kajian. dan di story terakhir, eh.. langsung nyess aku langsung lemess tiba-tiba kenyang. tiba-tiba gorengan dan sandwichku ga menarik lagi. tiba-tiba... kerongkonganku tercekat. si fulan akhirnya...

sebuah self reminder

Sepertinya, saya memang terlalu mudah menyesali sesuatu. Meski sudah berulang kali berusaha untuk berhenti mengatakan "seandainya ga milih ini..." atau "coba tadi nggak ikut, pasti bla bla bla..." dan semacamnya. Padahal, yang kayak gitu tuh bikin capek. Udah mah capek raga dari sononya, ditambah ngeluh dan nyesel kayak gitu jadi makin capek sampai ke batin. That's why, i'm writing this post to remind myself. Based on insight tadi malam, masyaAllah, aku mikir "kalau aku menghakimi keputusanku di masa lalu dengan menggunakan pengetahuan dan pengalamanku di masa sekarang, bukankah itu ga adil?" Karena aku yang sekarang sudah nambah pengetahuannya, sudah tahu akibatnya, sudah tahu lebih banyak daripada aku yang dulu, yang ngambil keputusan itu. Kalau waktu diputar dan aku kembali ke diriku yang dulu, dengan pengetahuan dan pengalaman yang sama, bukankah aku akan kembali mengambil keputusan yang sama? Jadi, ngapain nyesel? Bukankah aku sudah mengambil ...

oh newton, berjuta rasanya

my blog soul tiba-tiba nongol pas denger lagunya Kita Selamanya punya abang-abang Bondan & fade2Black. nih lagu liriknya asli keren bisa bikin gue ngayal, mata ini tiba-tiba basah hiks :") keinget sama Newton, Autis, dan segala macam hal tentang putih abu-abu gue :") ok… detak detik tirai mulai menutup panggung tanda skenario… eyo… baru harus diusung lembaran kertas barupun terbuka tinggalkan yang lama, biarkan sang pena berlaga kita pernah sebut itu kenangan tempo dulu pernah juga hilang atau takkan pernah berlalu masa jaya putih biru atau abu-abu (hey) memori crita cinta aku, dia dan kamu ya, perjalanan menuju hari UN memang jadi terasa seperti detak-detik yang selalu pengen gue slow-motion kan, biar gue bisa ngeliat semua tingkah dan ekspresi NEWTON secara detail, dan merekamnya dengan baik di memori ini. ada rasa bahagia karena langkah selanjutnya menuju universitas impian akan segera terwujud, tapi lebih banyak sedihnya karena harus berpisah dengan tawa me...