Skip to main content

Day #3: a memory

aku memilih ingatan yang paling samar.

Photo by Arleen wiese on Unsplash

saat itu aku memasuki ruang kerja ayah dengan membawa segelas susu vanilla di tanganku. mataku terpaku pada gelas, takut tumpah. kudengar ayah sedang mengetik dengan menggunakan mesin tik. aku mendongak saat memasuki ruangan. tangan ayah berhenti saat dia menoleh sebentar ke arahku, kemudian melambaikan tangannya, "sini" menyuruhku duduk di pangkuannya.

ayah berhenti mengetik. dia meraih gelasku sembari membantuku naik ke pangkuannya. 

"mau ayah bantu dinginkan?"

aku mengangguk sebagai jawaban. di hadapanku ada mesin tik dan kertas-kertas yang tidak kupahami bertuliskan apa. aku menarik bibirku ke samping, merasa hangat sekaligus merasa bak tuan putri yang menunggu susunya didinginkan sambil duduk di pangkuan ayah yang nyaman.


---

Kini, setelah 18 tahun berlalu, kenangan itu menjadi satu-satunya kenangan yang membuatku yakin ayah bukan orang jahat. meski dia pergi, meski dia sering membuatku menangis, tapi ayah bukan orang jahat. 

Hari ini, saat mencoba menuliskan kenangan itu pun, aku masih saja menangis. aku mungkin kecewa pada ayah. mungkin juga marah. dan jelas aku tidak ingin bertemu dengannya karena takut pada emosi yang akan meluap jika aku melihat tepat ke matanya ataupun mencium hawa kehadirannya. aku tidak ingin bertemu.

tapi mungkin, tetap saja, aku rindu ayah.

Comments

Popular posts from this blog

arah rotasi patah hati

Photo by Frames For Your Heart on Unsplash semua bermula saat pelukan kak fa terasa begitu personal. padahal ini cuma salam perpisahan biasa; paling cuma salaman, cipika-cipiki, ucapan "fii amanillah", saling mendoakan keselamatan, udah. tapi semalem, emang beda. selain cipika-cipiki, kak fa peluk aku erat, elus-elus pundakku. hanya saja perhatianku sedang teralih membahas soal umur dengan ummu mary dan musf. habis itu aku ke mobil, kak fa bilang lagi, "fii amanillah, tini", kubalas, "iya kak". aku singgahlah beli gorengan karena udah keroncongan sejak habis salat isya tadi. setelah 3 gorengan kulahap, aku iseng buka hp. liat-liat story orang, rata-rata soal berita duka istri ustadz yang baru saja meninggal. trus tiba di statusnya kak fa. biasa lah, poster-poster kajian. dan di story terakhir, eh.. langsung nyess aku langsung lemess tiba-tiba kenyang. tiba-tiba gorengan dan sandwichku ga menarik lagi. tiba-tiba... kerongkonganku tercekat. si fulan akhirnya...

sebuah self reminder

Sepertinya, saya memang terlalu mudah menyesali sesuatu. Meski sudah berulang kali berusaha untuk berhenti mengatakan "seandainya ga milih ini..." atau "coba tadi nggak ikut, pasti bla bla bla..." dan semacamnya. Padahal, yang kayak gitu tuh bikin capek. Udah mah capek raga dari sononya, ditambah ngeluh dan nyesel kayak gitu jadi makin capek sampai ke batin. That's why, i'm writing this post to remind myself. Based on insight tadi malam, masyaAllah, aku mikir "kalau aku menghakimi keputusanku di masa lalu dengan menggunakan pengetahuan dan pengalamanku di masa sekarang, bukankah itu ga adil?" Karena aku yang sekarang sudah nambah pengetahuannya, sudah tahu akibatnya, sudah tahu lebih banyak daripada aku yang dulu, yang ngambil keputusan itu. Kalau waktu diputar dan aku kembali ke diriku yang dulu, dengan pengetahuan dan pengalaman yang sama, bukankah aku akan kembali mengambil keputusan yang sama? Jadi, ngapain nyesel? Bukankah aku sudah mengambil ...

standar kebahagiaan

kalau lagi nyetir selalu aja muncul random thought yang alhamdulillah belakangan ini selalu yang baik-baik sih. misal, tadi pas di jalan ke kemenag.  aku keinget betapa dulu aku begitu terganggu dengan masa depanku di bidang pendidikan dan karir. di usia segini, aku baru D3 dan susah banget buat bisa S1. sedangkan teman-teman seusiaku malah sudah ada yang S2. lah aku, S1 aja belum. umur udah hampir kepala 3 tapi hilal untuk bisa kuliah S1 belum juga terlihat. ya, dulu aku rempong banget ngeluhin itu. menganggap itu sangat gawat dan aku harus segera mencari jalan keluarnya. lalu, ketika sana-sini udah mentok, aku jadi stress sendiri. ngerasa diri nggak berguna, salah milih jalan, kembali menyesali keputusanku di masa lalu karena sudah memilih pekerjaan ini. itu, aku yang dulu. sekarang, aku seolah bisa melihat diriku yang dulu. rasanya geli sendiri. kenapa sih tin, gitu aja direpotin? diizinin buat mengganggu hari-harimu? sampai kamu bela-belain konsul ke psikolog soal itu, iya kan?...