Skip to main content

Jadi Amoeba

Aku berencana membagi-bagi diriku menjadi beberapa bagian. Aku sadar, butuh banyak kepribadian eh maksudku 'tim' untuk bisa menyelesaikan target yang ingin kucapai. Aku tidak bisa hanya menjadi Tini Si Mageran. Maka ayo, keluarlah kepribadian-kepribadian yang selama ini bersemayam dalam diriku! Tunjukkan batang hidung kalian! although physically aku minim idung -_-

Jadi, kondisi awalnya gini. Aku udah ada ide, udah punya cerita dan gambaran besar tentang apa yang mau aku ceritain. Jadi sekarang tinggal actionnya. Saat inilah aku butuh tim untuk mengeksekusi. Jadi, aku butuh...

Photo by Danielle MacInnes on Unsplash
Oh ya, butuh minum and BEGIN! *ala-ala dumbledore

Tim Penulis Buruk Tapi Cepat

Tim ini bertanggung jawab untuk menuliskan semua ide, semua-muanya, penting ga penting, logis ga logis, mereka harus menuliskan semuanya. Mereka tidak peduli apakah ada typo, apakah tanda bacanya sesuai, apakah huruf kapitalnya sesuai, apakah ejaannya benar, apakah alurnya sinkron, apakah karakternya bagus. Tidak, mereka tidak peduli itu. Tugas mereka hanya satu: Menuliskan semua yang ada di outline, secepat mungkin.

Photo credit on Wethepvblic

Mereka punya waktu 2-3 jam sehari untuk melaksanakan tugas itu. Kalau disiplin, seharusnya mereka bisa menyelesaikan draft 0 dalam waktu kurang dari seminggu. Draft nol nanti akan dioper ke tim selanjutnya.

Tim Logis: Sub Unit Karakter



Photo by Andrew Seaman on Unsplash

Tim ini hampir sama dengan tim sebelumnya (tidak peduli typo dan etika eyd), tapi mereka sudah diizinkan untuk menggunakan akal. Mereka akan memeriksa apakah karakter yang menjalankan cerita dari awal sampai akhir sudah sesuai dengan desain karakter pada konsep? Apakah character developmentnya dapet? Tim ini berhak mengedit naskah, mengubah urutan bab, dan memberikan komentar pada naskah tentang apa saja yang perlu diingat dan disisipkan tentang chara develop dalam pengembangan alur kedepannya.
Output dari sub unit ini adalah draft 1-0.

Tim Logis: Sub Unit Alur

Setelah pengembangan karakter fix, maka selanjutnya adalah penyesuaian alur cerita. Sub unit ini akan melakukannya. Mereka akan memeriksa kelogisan cerita dari awal sampai akhir. Mereka mengharuskan adanya hukum sebab-akibat dari scene satu ke scene selanjutnya. Setiap bab harus berkontribusi untuk memajukan alur (atau paling tidak menjadi ruang untuk pendalaman karakter). Sub unit ini juga berhak mengedit naskah, mengubah urutannya, sesuai dengan catatan dari Sub Unit Karakter. Mereka mengeksekusi titah Sub Unit Karakter dan menaburkan spot-spot di mana pengembangan karakter dapat dilakukan.

Photo by Raphaël Biscaldi on Unsplash

Selain itu, sub unit ini juga berhak menghilangkan karakter-karakter pendukung yang terbukti tidak berkontribusi dalam alur cerita. Misal ada karakter pendukung yang ternyata berperan hanya sedikit, maka perannya bisa diberikan ke karakter pendukung lain yang lebih menonjol. Atau, kalau tidak dihilangkan pun bisa, yang penting mereka punya backstory yang menarik dan bisa masuk ke alur cerita secara ALAMI.
Output dari sub unit ini adalah draft 1-1. Nah, draft ini berarti harus udah clear soal karakter dan alurnya!

Tim Editor 1: Khusus Penulisan

Tim ini pure akan memperbaiki naskah dari segi tampilan. Mereka tidak mementingkan isi, mereka hanya memerhatikan:
1. Typo
2. Tanda Baca
3. EYD
4. Diksi
5. Kalimat Efektif
Mereka berhak mengedit atau bahkan menghapus kalimat yang hanya berupa pemborosan karena berulang (misal sudah dijelaskan di dialog tapi dijelaskan kembali di narasi). Mereka juga akan mengedit kalimat-kalimat agar tujuan kalimatnya bisa tersampaikan dengan efektif.

Photo by micah boswell on Unsplash

Kalau soal Diksi, tim ini wajib mempertimbangkan penggunaan suatu kata apakah sudah cocok dengan kalimatnya atau tidak? Jika ada kata yang terlalu terkesan berulang, tim ini harus mencari sinonim dari kata itu untuk me-replacenya.
Output dari tim ini adalah draft 2-0.

Tim Editor 2: Dialog

Tim ini hanya berfokus kepada dialog-dialog saja. Apakah nadanya sudah sesuai? Apakah dialog yang ada di naskah sudah menarik? Atau ada dialog baru yang tercetus dan lebih pas untuk menggambarkan sifat karakternya?

Photo by Volodymyr Hryshchenko on Unsplash

Tim ini harus mengingat gambaran desain karakter dan menyesuaikan cara bicara dan diksi dari karakter tersebut dengan kata-katanya dalam cerita.
Output dari tim ini akan dinamakan draft 2-1.

Tim Editor 3: Proofread

Nah, tim ini cukup berat kerjaannya. Mereka akan membaca naskah dari awal, dengan memedulikan semua hal. Mereka akan mencatat apa saja yang terlewatkan oleh tim-tim sebelumnya. Jika catatan sudah rampung, catatan itu akan dijadikan acuan selama menulis kembali draft 2-1 menjadi draft 3.

Photo by Glenn Carstens-Peters on Unsplash

Namun, sebelum dibaca oleh tim proofread, naskah harus diendapkan terlebih dahulu. Setidaknya dua sampai tiga minggu, demi penilaian yang lebih objektif. Tim ini akan menyatukan kepala setiap tim dan menelurkan draft 3.

Tim Cetak-Edar

Tim ini simple aja kerjaannya. Ngeprint naskah terus dikasih ke teman-teman terdekat untuk menerima masukan mereka. Tim ini harus mencatat apa saja masukan yang diterima, juga ikut diskusi asyik sama teman untuk menggali ide dan masukan lebih dalam.

Photo by Charles Deluvio on Unsplash

Masukan yang diterima disetor ke diriku sendiri, nanti akan aku sebar lagi ke setiap tim sesuai dengan bagian mana yang dapat masukan.

Siklusnya akan terus seperti itu. Tim Editor 3: Proofread akan terus bekerja, menelurkan draft demi draft sampai akhirnya tiba di draft final. Draft final akan aku kirim ke penerbit untuk diterbitkan!

Photo by Edu Lauton on Unsplash

Gimana? Kira-kira bisa ga ya aku eksekusi? Totalnya butuh waktu berapa lama?
HMMM jujur aja, aku udah bosen dengan penat dan enyah saja kau pekat :(

Comments

Popular posts from this blog

arah rotasi patah hati

Photo by Frames For Your Heart on Unsplash semua bermula saat pelukan kak fa terasa begitu personal. padahal ini cuma salam perpisahan biasa; paling cuma salaman, cipika-cipiki, ucapan "fii amanillah", saling mendoakan keselamatan, udah. tapi semalem, emang beda. selain cipika-cipiki, kak fa peluk aku erat, elus-elus pundakku. hanya saja perhatianku sedang teralih membahas soal umur dengan ummu mary dan musf. habis itu aku ke mobil, kak fa bilang lagi, "fii amanillah, tini", kubalas, "iya kak". aku singgahlah beli gorengan karena udah keroncongan sejak habis salat isya tadi. setelah 3 gorengan kulahap, aku iseng buka hp. liat-liat story orang, rata-rata soal berita duka istri ustadz yang baru saja meninggal. trus tiba di statusnya kak fa. biasa lah, poster-poster kajian. dan di story terakhir, eh.. langsung nyess aku langsung lemess tiba-tiba kenyang. tiba-tiba gorengan dan sandwichku ga menarik lagi. tiba-tiba... kerongkonganku tercekat. si fulan akhirnya...

sebuah self reminder

Sepertinya, saya memang terlalu mudah menyesali sesuatu. Meski sudah berulang kali berusaha untuk berhenti mengatakan "seandainya ga milih ini..." atau "coba tadi nggak ikut, pasti bla bla bla..." dan semacamnya. Padahal, yang kayak gitu tuh bikin capek. Udah mah capek raga dari sononya, ditambah ngeluh dan nyesel kayak gitu jadi makin capek sampai ke batin. That's why, i'm writing this post to remind myself. Based on insight tadi malam, masyaAllah, aku mikir "kalau aku menghakimi keputusanku di masa lalu dengan menggunakan pengetahuan dan pengalamanku di masa sekarang, bukankah itu ga adil?" Karena aku yang sekarang sudah nambah pengetahuannya, sudah tahu akibatnya, sudah tahu lebih banyak daripada aku yang dulu, yang ngambil keputusan itu. Kalau waktu diputar dan aku kembali ke diriku yang dulu, dengan pengetahuan dan pengalaman yang sama, bukankah aku akan kembali mengambil keputusan yang sama? Jadi, ngapain nyesel? Bukankah aku sudah mengambil ...

oh newton, berjuta rasanya

my blog soul tiba-tiba nongol pas denger lagunya Kita Selamanya punya abang-abang Bondan & fade2Black. nih lagu liriknya asli keren bisa bikin gue ngayal, mata ini tiba-tiba basah hiks :") keinget sama Newton, Autis, dan segala macam hal tentang putih abu-abu gue :") ok… detak detik tirai mulai menutup panggung tanda skenario… eyo… baru harus diusung lembaran kertas barupun terbuka tinggalkan yang lama, biarkan sang pena berlaga kita pernah sebut itu kenangan tempo dulu pernah juga hilang atau takkan pernah berlalu masa jaya putih biru atau abu-abu (hey) memori crita cinta aku, dia dan kamu ya, perjalanan menuju hari UN memang jadi terasa seperti detak-detik yang selalu pengen gue slow-motion kan, biar gue bisa ngeliat semua tingkah dan ekspresi NEWTON secara detail, dan merekamnya dengan baik di memori ini. ada rasa bahagia karena langkah selanjutnya menuju universitas impian akan segera terwujud, tapi lebih banyak sedihnya karena harus berpisah dengan tawa me...