Skip to main content

standar kebahagiaan

kalau lagi nyetir selalu aja muncul random thought yang alhamdulillah belakangan ini selalu yang baik-baik sih. misal, tadi pas di jalan ke kemenag. 

aku keinget betapa dulu aku begitu terganggu dengan masa depanku di bidang pendidikan dan karir. di usia segini, aku baru D3 dan susah banget buat bisa S1. sedangkan teman-teman seusiaku malah sudah ada yang S2. lah aku, S1 aja belum. umur udah hampir kepala 3 tapi hilal untuk bisa kuliah S1 belum juga terlihat. ya, dulu aku rempong banget ngeluhin itu. menganggap itu sangat gawat dan aku harus segera mencari jalan keluarnya. lalu, ketika sana-sini udah mentok, aku jadi stress sendiri. ngerasa diri nggak berguna, salah milih jalan, kembali menyesali keputusanku di masa lalu karena sudah memilih pekerjaan ini.

itu, aku yang dulu.

sekarang, aku seolah bisa melihat diriku yang dulu. rasanya geli sendiri. kenapa sih tin, gitu aja direpotin? diizinin buat mengganggu hari-harimu? sampai kamu bela-belain konsul ke psikolog soal itu, iya kan? kenapa coba? wkwkwk

soalnya, dulu, aku merasa itu gaswat to the max. aku ngejar gelar karena udah kepepet umur. malu kalau orang-orang tahu aku baru D3. padahal, apa salahnya, coba? emang kenapa kalau baru D3? kenapa kalau umur segini belum S1? emangnya nanti di akhirat bakal ditanyain gelar pendidikan kita apa aja? mau sepanjang apapun, nggak bakal ada yang nanyain itu di akhirat nanti. yang ditanyain justru adalah amal ibadah yang udah kita tunaikan di dunia. apakah gelar-gelar itu membawa berkah atau justru kemudharatan? apakah jenjang pendidikan yang ditempuh itu membuat kita dekat dengan Allah atau justru malah jauh melenceng dari jalan-Nya? itu yang harusnya kamu khawatirin, tin.

so, it doesn't matter kamu baru D3 atau udah S1. yang terpenting adalah, kamu bisa menuntun diri kamu untuk memanfaatkan waktu saat ini sebaik mungkin. kalau belum dikasih rejeki untuk lanjut kuliah, yaudah lakukan hal lain. mempersiapkan iman yang kuat biar nggak goyah saat kesibukan kuliah menerjang, misalnya. 

bicara soal goyah, aku juga sempat baca postingan yukngajibandung yang rasanya relate banget buat aku;

jodoh dan maut sama-sama udah dijamin oleh Allah. tapi, jodoh belum tentu ketemu di dunia. jodoh bisa berupa pasangan hidup, bisa juga dialihkan menjadi pahala akhirat ketika kita berikhtiar dan selalu berprasangka baik pada takdir Allah. sedangkan maut udah pasti menjemput. tapi seringkali kita justru lalai mempersiapkan diri mengahadapi "tamu" yang pasti akan datang cepat atau lambat itu.

duh, nyess banget nggak sih? rasanya kayak dibuka lagi dan lagi pemikiranku yang dulunya sempit banget jadi sedikit lebih luas. sedikit lebih bisa melihat sisi lain dari hal-hal yang dulu aku khawatirkan, keluhkan, dan justru aku hindari untuk aku pikirkan. kayaknya, dulu aku emang banyak salah galaunya. mengkhawatirkan hal yang ga perlu dan justru lalai dalam memikirkan hal yang esensial buat kehidupan yang abadi kelak.

yuk bisa yuk, dikit-dikit benahi diri, tin :)

Photo by Aaron Burden on Unsplash


Comments

Popular posts from this blog

arah rotasi patah hati

Photo by Frames For Your Heart on Unsplash semua bermula saat pelukan kak fa terasa begitu personal. padahal ini cuma salam perpisahan biasa; paling cuma salaman, cipika-cipiki, ucapan "fii amanillah", saling mendoakan keselamatan, udah. tapi semalem, emang beda. selain cipika-cipiki, kak fa peluk aku erat, elus-elus pundakku. hanya saja perhatianku sedang teralih membahas soal umur dengan ummu mary dan musf. habis itu aku ke mobil, kak fa bilang lagi, "fii amanillah, tini", kubalas, "iya kak". aku singgahlah beli gorengan karena udah keroncongan sejak habis salat isya tadi. setelah 3 gorengan kulahap, aku iseng buka hp. liat-liat story orang, rata-rata soal berita duka istri ustadz yang baru saja meninggal. trus tiba di statusnya kak fa. biasa lah, poster-poster kajian. dan di story terakhir, eh.. langsung nyess aku langsung lemess tiba-tiba kenyang. tiba-tiba gorengan dan sandwichku ga menarik lagi. tiba-tiba... kerongkonganku tercekat. si fulan akhirnya...

sebuah self reminder

Sepertinya, saya memang terlalu mudah menyesali sesuatu. Meski sudah berulang kali berusaha untuk berhenti mengatakan "seandainya ga milih ini..." atau "coba tadi nggak ikut, pasti bla bla bla..." dan semacamnya. Padahal, yang kayak gitu tuh bikin capek. Udah mah capek raga dari sononya, ditambah ngeluh dan nyesel kayak gitu jadi makin capek sampai ke batin. That's why, i'm writing this post to remind myself. Based on insight tadi malam, masyaAllah, aku mikir "kalau aku menghakimi keputusanku di masa lalu dengan menggunakan pengetahuan dan pengalamanku di masa sekarang, bukankah itu ga adil?" Karena aku yang sekarang sudah nambah pengetahuannya, sudah tahu akibatnya, sudah tahu lebih banyak daripada aku yang dulu, yang ngambil keputusan itu. Kalau waktu diputar dan aku kembali ke diriku yang dulu, dengan pengetahuan dan pengalaman yang sama, bukankah aku akan kembali mengambil keputusan yang sama? Jadi, ngapain nyesel? Bukankah aku sudah mengambil ...

oh newton, berjuta rasanya

my blog soul tiba-tiba nongol pas denger lagunya Kita Selamanya punya abang-abang Bondan & fade2Black. nih lagu liriknya asli keren bisa bikin gue ngayal, mata ini tiba-tiba basah hiks :") keinget sama Newton, Autis, dan segala macam hal tentang putih abu-abu gue :") ok… detak detik tirai mulai menutup panggung tanda skenario… eyo… baru harus diusung lembaran kertas barupun terbuka tinggalkan yang lama, biarkan sang pena berlaga kita pernah sebut itu kenangan tempo dulu pernah juga hilang atau takkan pernah berlalu masa jaya putih biru atau abu-abu (hey) memori crita cinta aku, dia dan kamu ya, perjalanan menuju hari UN memang jadi terasa seperti detak-detik yang selalu pengen gue slow-motion kan, biar gue bisa ngeliat semua tingkah dan ekspresi NEWTON secara detail, dan merekamnya dengan baik di memori ini. ada rasa bahagia karena langkah selanjutnya menuju universitas impian akan segera terwujud, tapi lebih banyak sedihnya karena harus berpisah dengan tawa me...