Aku kenal seseorang yang cukup aneh. Dia berubah entah sejak kapan, tapi aku ingat dulu dia tidak seperti sekarang. Makin ke sini, dia makin menutup dirinya dari orang lain. Dia risih ketika ada yang memperhatikannya. Dia ingin orang-orang menganggapnya tidak ada. Belakangan ini, dia disibukkan oleh rutinitas ala pekerja kantoran. Pergi pagi pulang malam, sampai rumah main bentar dengan keponakannya--sekadar berusaha menjadi diri sendiri setelah seharian menjadi orang lain. Setelah itu dia akan tertidur pulas dan bangun lagi besok subuh. Kabar baiknya, tidurnya jadi nyenyak--kecuali kalau maagnya kambuh, dia bisa nangis terus semaleman. Tapi kabar buruknya, dia pelan-pelan jenuh dengan semua itu. "Mungkin ini hanya perasaan sementara, rasa bosan memang bisa datang kapan saja, nanti juga bakal semangat lagi," begitu cara dia menenangkan diri sendiri. Di tengah kesibukan nya itu, dia seringkali ingin meluangkan waktu untuk menulis. Dia rindu pada aksara, ingin menuliskan ...
doa yang kencang tapi lirih. lirih, tapi riuh di langit.