Skip to main content

Posts

Showing posts with the label ngomongin jodoh

sela-sela tanya dan gerak-gerik khayal

dia bisa kok serius, kalau soal kerjaan. dia bisa kok teliti, bisa ga typo, bisa komitmen. tapi nggak, kalau sama saya. ya udah, simple. itu artinya, dia memang nggak serius sama saya. nggak nganggep prioritas. nggak nganggep itu urgent dan important. kalau di eisenhower matriks mungkin masuk kategori "plan" but without any intention to give a due date or take any action. plan, tapi gatau kapan. ya bukan plan dong ya wkwk gausah denial emang masuk kategori "delete" aja udeh 😏 karena kan emang dilupain. okelah dia sibuk, ada pelatihan sana-sini, kerjaan juga ga habis-habis, tapi kan di atas semua itu, kalau emang niat, pasti ada aja caranya. ada aja jalan yang bisa ditempuh. slow but sure is still okay. tapi ini, kayaknya emang nggak seniat itu. dikasih syarat dikit, mundur, udah. yang aku nggak habis pikir, dia tuh menggebu-gebu kalau ngomong. mantep. seolah yakin. tapi apa? janji ngasih kabar seminggu, eh taunya sampai sekarang--udah sebulan kayaknya deh, tetep ng...

kalau kamu lupa, sini saya ingatkan

pertama, kriteria yang kamu tetapkan untuk dirimu, itu udah pas dan masuk akal. nggak berlebihan. dan kamu harus percaya, Allah nggak pelit. kamu minta, Allah kasih. maka jangan ragu. kalau yang kamu mau udah ada di kepala, minta. inget, kriteria yang udah kamu tetapkan sejauh ini: sholeh dan bertakwa ini gabisa dinego. kalau ini nggak ada, yang lain nggak ada artinya. nggak ada istilah "nanti bisa dibimbing jadi sholeh". kamu mau berumah tangga--jadi istri, jadi yang dipimpin--bukan mau kontribusi di proyek dakwah. kalau dia nggak ngerti agama, sementara kamu insyaAllah istiqomah untuk terus belajar agama, nanti kamu yang capek ngingetin dia tiap hari. tau halal-haram dasar is a must. atau minimal, kalau dia masih awam, ketika kamu bilang menyentuh yang bukan mahrom itu dosa, dia nggak ngetawain atau ngeles. tapi dia jadi sadar, dan nggak malu mengakui "duh selama ini saya salah. masih banyak yang perlu saya pelajari nih." ---ini kan yang ada di kepalamu, ini respo...

rekonsiliasi dengan diri sendiri

rasa sesal itu ternyata mengendap. ketika akhirnya aku dihadapkan pada permasalahan jodoh ini lagi, ada riak dikit aja, endapan yang halus itu balik lagi ke atas. kenangan menarikku ke sana. ke titik di mana aku merasa, "duh harusnya perjuangin dia, tin!". kebayang gimana sedihnya, gimana aku nangis sendirian, menyesal sejadi-jadinya. menghakimi diriku sendiri, mengapa aku begitu bodoh menyia-nyiakan orang sebaik dan sedewasa dia. ternyata aku masih nyalahin diri sendiri. jadilah aku brainstorming sama meta ai. dan hasilnya lumayan. intinya, kasih batasan. ada hal yang emang bisa aku kontrol, ada yang nggak. yang aku lakukan saat itu: istikharah, nggak ada bohong, nggak ada ngegantung dia. dan diriku yang dulu, bukan aku yang sekarang. dulu, aku belum punya ilmu tentang "apa sebenarnya yang aku cari di pernikahan". ya sekarang pun belum jelas, tapi aku jadi sadar, bahwa mencari tau tentang itu tuh penting. yang nggak bisa aku kontrol: keputusan dia untuk mundur, kek...

arah rotasi patah hati

Photo by Frames For Your Heart on Unsplash semua bermula saat pelukan kak fa terasa begitu personal. padahal ini cuma salam perpisahan biasa; paling cuma salaman, cipika-cipiki, ucapan "fii amanillah", saling mendoakan keselamatan, udah. tapi semalem, emang beda. selain cipika-cipiki, kak fa peluk aku erat, elus-elus pundakku. hanya saja perhatianku sedang teralih membahas soal umur dengan ummu mary dan musf. habis itu aku ke mobil, kak fa bilang lagi, "fii amanillah, tini", kubalas, "iya kak". aku singgahlah beli gorengan karena udah keroncongan sejak habis salat isya tadi. setelah 3 gorengan kulahap, aku iseng buka hp. liat-liat story orang, rata-rata soal berita duka istri ustadz yang baru saja meninggal. trus tiba di statusnya kak fa. biasa lah, poster-poster kajian. dan di story terakhir, eh.. langsung nyess aku langsung lemess tiba-tiba kenyang. tiba-tiba gorengan dan sandwichku ga menarik lagi. tiba-tiba... kerongkonganku tercekat. si fulan akhirnya...

standar kebahagiaan

kalau lagi nyetir selalu aja muncul random thought yang alhamdulillah belakangan ini selalu yang baik-baik sih. misal, tadi pas di jalan ke kemenag.  aku keinget betapa dulu aku begitu terganggu dengan masa depanku di bidang pendidikan dan karir. di usia segini, aku baru D3 dan susah banget buat bisa S1. sedangkan teman-teman seusiaku malah sudah ada yang S2. lah aku, S1 aja belum. umur udah hampir kepala 3 tapi hilal untuk bisa kuliah S1 belum juga terlihat. ya, dulu aku rempong banget ngeluhin itu. menganggap itu sangat gawat dan aku harus segera mencari jalan keluarnya. lalu, ketika sana-sini udah mentok, aku jadi stress sendiri. ngerasa diri nggak berguna, salah milih jalan, kembali menyesali keputusanku di masa lalu karena sudah memilih pekerjaan ini. itu, aku yang dulu. sekarang, aku seolah bisa melihat diriku yang dulu. rasanya geli sendiri. kenapa sih tin, gitu aja direpotin? diizinin buat mengganggu hari-harimu? sampai kamu bela-belain konsul ke psikolog soal itu, iya kan?...