Skip to main content

Posts

Showing posts from 2018

Lihat lebih dekat~

Kalau banyak orang yang sentimen dan menganggap remeh hal-hal berbau korea, aku memang bisa mengerti. Korea terlalu erat dikaitkan dengan operasi plastik, kpop, bahkan atheisme. Ya, memang banyak hal seperti itu di sana, setauku. Tapi, bukan berarti kita harus menutup mata dan berpaling sepenuhnya dari mereka. Karena hal-hal berharga dan bermakna tidak selalu datang dari orang berderajat tinggi, berpendidikan tinggi, ataupun berpengetahuan agama yang tinggi. Ada kemungkinan juga, kita dapat memetik pelajaran berharga yang meski sederhana dari beberapa orang 'biasa'. Jujur saja, meski aku lebih sering terlihat antusias terhadap kpop, namun belakangan ini aku merasa hal itu adalah sesuatu yang salah. Aku membuang-buang waktuku menonton video mereka, atau membaca artikel mereka. Ya, memang benar sih itu menghibur, tapi aku jadi tidak produktif. Pikiran itu menghantuiku, sampai aku merasa aku harus mengurangi kegiatan itu. Kalau perlu, aku harus berhenti. Dan kemudian, GOT7 mel...

How I escape

Eniwei, saat sedang tertekan, merasa dikekang, atau stress, aku sering 'kabur' dengan berbagai macam cara. Misalnya; Berbenah kamar/rumah/kosan image source: pinterest Entah dengan sihir apa--meski sebenarnya nggak pake sihir apa-apa sih lol--berbenah tuh seringkali berhasil ngasih energi positif ke badan dan pikiranku. Berbenah di sini lebih ke beresin meja, nyapu ngepel, atau sekadar nyuci kaos kaki dan nyuci piring sih. Rasa capek yang terasa setelah aktivitas yang melelahkan itu kayak terapi gratis yang bikin pikiranku tenang, dan perlahan-lahan minta istirahat. Meski lebih sering tidak menyelesaikan masalahku, tapi setidaknya aku merasa produktif karena berhasil membersihkan ruangan, pakaian, dan alat makanku xD Menulis di kertas/laptop/blog image source: freepik Kadang saking dalamnya suatu perasaan, baik perasaan senang maupun sedih, aku sampai tidak bisa berkata-kata di depan kertas maupun laptop. Tapi justru saat stuck begitu, aku akan menuliskan apa...

Kecamuk yang perlahan mereda

Keresahan selalu menjadi hal yang memicuku untuk menulis. Aku ingin bercerita, namun bukan dengan lisan, melainkan tulisan. Libur panjang--super duper panjang karena sampai tiga bulan--sudah hampir berakhir. Bahkan tinggal menghitung jam. Sebab besok sejatinya perkuliahan di kampusku akan dimulai. Tapi aku masih di Makassar. Aku masih mendekam di depan laptopku. Sampai hari Jumat kemarin, aku masih berharap mama akan mengizinkanku untuk lebaran Idul Adha di Bandung saja, sembari berkuliah. Tapi setelah ngomong baik-baik dan mama tetap pada keputusannya, maka aku tidak punya pilihan selain mengikutinya. Aku 'terpaksa' harus meninggalkan kuliahku sampai Idul Adha selesai. Ngomong-ngomong, sejak aku mengikhlaskan egoku untuk mengalah pada keputusan mama, aku mulai merencanakan scheduleku selama kurang dari 2 minggu kedepannya. FYI, ini semua gara-gara aku mendaftar loker di Pos Indonesia dan Qadarullah, aku lulus sampai harus mengikuti psikotest dan wawancara di Makassar. Jadi...

Tired

dia lelah. aku bisa melihat beban yang dia bawa di pundaknya setiap hari. memang tidak mudah menjalani kehidupan yang tidak sesuai rencanamu. dia pun demikian. semenjak masuk kuliah lagi--ngomong-ngomong baru tiga hari dia kuliah--dia selalu ingin melarikan diri dari apapun yang terkait dengan perkuliahannya. dia ingat ada banyak tugas yang menantinya. dia tahu dia tidak bisa mengandalkan waktu weekend untuk mengerjakan semua tugas itu karena dia sudah berjanji akan ikut makrab kelasnya weekend ini. dia tahu dia harus mengerjakan semua tugas itu hari ini atau besok. apalagi temannya yang super rajin sudah mulai menerornya, ingin menyocokkan jawaban. apa yang mau dicocokkan? dia saja belum menyentuk bindernya sedetikpun. sejak pulang kuliah hingga sekarang, dia hanya sibuk bolak-balik blog dan folder tulisannya, sibuk mengagumi dan merindukan dirinya yang dulu. aku tahu dia bergumul lagi dengan perasaannya itu. dia mengaku suka aksara, dia mengamini bakatnya di bidang sastra. tap...