Skip to main content

Mereka semua berakhir di draft...

Aku kenal seseorang yang cukup aneh. Dia berubah entah sejak kapan, tapi aku ingat dulu dia tidak seperti sekarang. Makin ke sini, dia makin menutup dirinya dari orang lain. Dia risih ketika ada yang memperhatikannya. Dia ingin orang-orang menganggapnya tidak ada.

Belakangan ini, dia disibukkan oleh rutinitas ala pekerja kantoran. Pergi pagi pulang malam, sampai rumah main bentar dengan keponakannya--sekadar berusaha menjadi diri sendiri setelah seharian menjadi orang lain. Setelah itu dia akan tertidur pulas dan bangun lagi besok subuh. Kabar baiknya, tidurnya jadi nyenyak--kecuali kalau maagnya kambuh, dia bisa nangis terus semaleman. Tapi kabar buruknya, dia pelan-pelan jenuh dengan semua itu.

"Mungkin ini hanya perasaan sementara, rasa bosan memang bisa datang kapan saja, nanti juga bakal semangat lagi," begitu cara dia menenangkan diri sendiri.

Di tengah kesibukannya itu, dia seringkali ingin meluangkan waktu untuk menulis. Dia rindu pada aksara, ingin menuliskan isi hatinya meski hanya sebentar. Dia mulai membuka blog yang telah lama tak dikunjunginya, menuliskan tulisan baru, dan setelah itu dia termenung di depan tulisannya yang sudah selesai. Dia membaca ulang tulisan itu, perasaannya bercampur-aduk antara senang--karena sudah menuliskan sesuatu, juga sedih karena ternyata pikirannya seruwet itu.

Dia berhasil menuliskan isi hatinya. Tapi saat mouse bergerak ke tombol Publish, jari-jarinya terhenti. Di pikirannya, lagi-lagi bergejolak dilema itu.

"Apa yang akan orang-orang pikirkan jika aku mem-posting ini? Apakah mereka akan mengira aku adalah orang yang super depresi?"

Photo by Keenan Constance on Unsplash

Comments

Popular posts from this blog

arah rotasi patah hati

Photo by Frames For Your Heart on Unsplash semua bermula saat pelukan kak fa terasa begitu personal. padahal ini cuma salam perpisahan biasa; paling cuma salaman, cipika-cipiki, ucapan "fii amanillah", saling mendoakan keselamatan, udah. tapi semalem, emang beda. selain cipika-cipiki, kak fa peluk aku erat, elus-elus pundakku. hanya saja perhatianku sedang teralih membahas soal umur dengan ummu mary dan musf. habis itu aku ke mobil, kak fa bilang lagi, "fii amanillah, tini", kubalas, "iya kak". aku singgahlah beli gorengan karena udah keroncongan sejak habis salat isya tadi. setelah 3 gorengan kulahap, aku iseng buka hp. liat-liat story orang, rata-rata soal berita duka istri ustadz yang baru saja meninggal. trus tiba di statusnya kak fa. biasa lah, poster-poster kajian. dan di story terakhir, eh.. langsung nyess aku langsung lemess tiba-tiba kenyang. tiba-tiba gorengan dan sandwichku ga menarik lagi. tiba-tiba... kerongkonganku tercekat. si fulan akhirnya...

sebuah self reminder

Sepertinya, saya memang terlalu mudah menyesali sesuatu. Meski sudah berulang kali berusaha untuk berhenti mengatakan "seandainya ga milih ini..." atau "coba tadi nggak ikut, pasti bla bla bla..." dan semacamnya. Padahal, yang kayak gitu tuh bikin capek. Udah mah capek raga dari sononya, ditambah ngeluh dan nyesel kayak gitu jadi makin capek sampai ke batin. That's why, i'm writing this post to remind myself. Based on insight tadi malam, masyaAllah, aku mikir "kalau aku menghakimi keputusanku di masa lalu dengan menggunakan pengetahuan dan pengalamanku di masa sekarang, bukankah itu ga adil?" Karena aku yang sekarang sudah nambah pengetahuannya, sudah tahu akibatnya, sudah tahu lebih banyak daripada aku yang dulu, yang ngambil keputusan itu. Kalau waktu diputar dan aku kembali ke diriku yang dulu, dengan pengetahuan dan pengalaman yang sama, bukankah aku akan kembali mengambil keputusan yang sama? Jadi, ngapain nyesel? Bukankah aku sudah mengambil ...

standar kebahagiaan

kalau lagi nyetir selalu aja muncul random thought yang alhamdulillah belakangan ini selalu yang baik-baik sih. misal, tadi pas di jalan ke kemenag.  aku keinget betapa dulu aku begitu terganggu dengan masa depanku di bidang pendidikan dan karir. di usia segini, aku baru D3 dan susah banget buat bisa S1. sedangkan teman-teman seusiaku malah sudah ada yang S2. lah aku, S1 aja belum. umur udah hampir kepala 3 tapi hilal untuk bisa kuliah S1 belum juga terlihat. ya, dulu aku rempong banget ngeluhin itu. menganggap itu sangat gawat dan aku harus segera mencari jalan keluarnya. lalu, ketika sana-sini udah mentok, aku jadi stress sendiri. ngerasa diri nggak berguna, salah milih jalan, kembali menyesali keputusanku di masa lalu karena sudah memilih pekerjaan ini. itu, aku yang dulu. sekarang, aku seolah bisa melihat diriku yang dulu. rasanya geli sendiri. kenapa sih tin, gitu aja direpotin? diizinin buat mengganggu hari-harimu? sampai kamu bela-belain konsul ke psikolog soal itu, iya kan?...