Skip to main content

tentang istiqamah

Photo by Hayley Murray on Unsplash

berbicara tentang istiqamah, kita harus melibatkan 3 unsur:

  1. lillah. keikhlasan. tidak ada istiqamah tanpa keikhlasan. jangan sampai kita memperlihatkan ibadah kita untuk dipuji orang. jangan sampai pada saat ketemu dengan keluarga besar, dengan para sahabat, atau teman-teman kita, kita memamerkan amal ibadah kita di ramadan. begitu kita tidak ikhlas, di situlah kita tidak akan istiqamah.
  2. billah; tidak ada istiqamah tanpa meminta pertolongan kepada Allah. makanya dalam ayat yang selalu kita baca setiap shalat, "hanya kepada Engkau kami beribadah, dan hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan." jangan pernah berpikir bisa istiqamah kalau kita gak minta tolong kepada Allah. kita ingin istiqamah jadi istri yang baik, banyak-banyak minta tolong sama Allah jadi istri yang baik. kita ingin istiqamah jadi suami yang baik, banyak-banyak minta tolong agar jadi suami yang baik. kita ingin istiqamah tahajud, banyak-banyak minta tolong agar dibangunkan di waktu malam dan bisa shalat tahajud. kita ingin rutin setiap bulan mengkhatamkan Al-Qur'an, banyak-banyak minta tolong sama Allah.
  3. harus berada di jalan Allah. bukan suka-suka kita. bukan sesuai selera kita, bukan di tangan kita, itu poinnya. tapi ikuti ajaran Allah. Allah suruh kita ke kanan, kita ke kanan. Allah suruh kita ke kiri, kita ke kiri. Allah suruh kita berhenti, kita berhenti. Allah menyuruh kita ngegas, kita ngegas. Allah meminta kita mengikuti sunnah Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam, ikutilah tuntunan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. bukan kita yang ngatur. bukan pakai konsep kita. tapi pakai konsep Allah subhanahu wa ta'ala.
jika tiga unsur ini dapat, maka kita akan istiqamah.

from:


bismillah. mudahkanlah dan berkahilah, ya Allah.

Comments

Popular posts from this blog

arah rotasi patah hati

Photo by Frames For Your Heart on Unsplash semua bermula saat pelukan kak fa terasa begitu personal. padahal ini cuma salam perpisahan biasa; paling cuma salaman, cipika-cipiki, ucapan "fii amanillah", saling mendoakan keselamatan, udah. tapi semalem, emang beda. selain cipika-cipiki, kak fa peluk aku erat, elus-elus pundakku. hanya saja perhatianku sedang teralih membahas soal umur dengan ummu mary dan musf. habis itu aku ke mobil, kak fa bilang lagi, "fii amanillah, tini", kubalas, "iya kak". aku singgahlah beli gorengan karena udah keroncongan sejak habis salat isya tadi. setelah 3 gorengan kulahap, aku iseng buka hp. liat-liat story orang, rata-rata soal berita duka istri ustadz yang baru saja meninggal. trus tiba di statusnya kak fa. biasa lah, poster-poster kajian. dan di story terakhir, eh.. langsung nyess aku langsung lemess tiba-tiba kenyang. tiba-tiba gorengan dan sandwichku ga menarik lagi. tiba-tiba... kerongkonganku tercekat. si fulan akhirnya...

sebuah self reminder

Sepertinya, saya memang terlalu mudah menyesali sesuatu. Meski sudah berulang kali berusaha untuk berhenti mengatakan "seandainya ga milih ini..." atau "coba tadi nggak ikut, pasti bla bla bla..." dan semacamnya. Padahal, yang kayak gitu tuh bikin capek. Udah mah capek raga dari sononya, ditambah ngeluh dan nyesel kayak gitu jadi makin capek sampai ke batin. That's why, i'm writing this post to remind myself. Based on insight tadi malam, masyaAllah, aku mikir "kalau aku menghakimi keputusanku di masa lalu dengan menggunakan pengetahuan dan pengalamanku di masa sekarang, bukankah itu ga adil?" Karena aku yang sekarang sudah nambah pengetahuannya, sudah tahu akibatnya, sudah tahu lebih banyak daripada aku yang dulu, yang ngambil keputusan itu. Kalau waktu diputar dan aku kembali ke diriku yang dulu, dengan pengetahuan dan pengalaman yang sama, bukankah aku akan kembali mengambil keputusan yang sama? Jadi, ngapain nyesel? Bukankah aku sudah mengambil ...

standar kebahagiaan

kalau lagi nyetir selalu aja muncul random thought yang alhamdulillah belakangan ini selalu yang baik-baik sih. misal, tadi pas di jalan ke kemenag.  aku keinget betapa dulu aku begitu terganggu dengan masa depanku di bidang pendidikan dan karir. di usia segini, aku baru D3 dan susah banget buat bisa S1. sedangkan teman-teman seusiaku malah sudah ada yang S2. lah aku, S1 aja belum. umur udah hampir kepala 3 tapi hilal untuk bisa kuliah S1 belum juga terlihat. ya, dulu aku rempong banget ngeluhin itu. menganggap itu sangat gawat dan aku harus segera mencari jalan keluarnya. lalu, ketika sana-sini udah mentok, aku jadi stress sendiri. ngerasa diri nggak berguna, salah milih jalan, kembali menyesali keputusanku di masa lalu karena sudah memilih pekerjaan ini. itu, aku yang dulu. sekarang, aku seolah bisa melihat diriku yang dulu. rasanya geli sendiri. kenapa sih tin, gitu aja direpotin? diizinin buat mengganggu hari-harimu? sampai kamu bela-belain konsul ke psikolog soal itu, iya kan?...