Skip to main content

menuang semrawut sebelum akut

rasanya udah bener-bener ga sehat. aku sampai bengong berkali-kali, ngerasa kok gelisah sendiri nih hati. taunya banyak unek-unek. dan semuanya aku tumpahin ke gemini. Ya Allah.. semoga hamba mendapat petunjuk dan pertolongan-Mu...

ada beberapa yang lumayan lucu dan nyangkut di saya, kalau dari saran gemini. yang pertama:
mindset kelas tahsin dan bahasa arab: datang aja dulu. gak usah berekspektasi jadi murid paling pintar (ya emang ga juga wkwk). yang penting fisikmu hadir di kelas. itu udah kemenangan besar. HAHA buat kaum mager macem saya, ini bener banget sih. berada di luar rumah aja itu udah effort banget loh. 

yang kedua:
Ingat, kamu belajar tahsin dan bahasa Arab itu untuk kebaikan dirimu sendiri dan merupakan hal yang mulia. Wajar kalau ada ujiannya, dan salah satu ujianmu saat ini adalah menghadapi dinamika komunikasi dengan Mama.
dan ya, memang niat baik itu seringkali diberi ujian biar terasah, kan. jadi bismillah, semoga Allah beri kekuatan dan memudahkan untuk terus menerus sabar dalam meniti jalan ini.

yang ketiga:
Anggap Omelan Sebagai Background Noise: Kalau Mama mulai membanding-bandingkan atau menyindir ("Kalau belajar agama rajin, kalau disuruh Mama malas"), jangan dijawab. Tarik napas, tatap lantai, anggap itu kayak suara radio tetangga yang gak bisa kamu matikan. wah ini taktik baru sih. karena sebagian besar dari omelan tuh kadang isinya emang nyakitin doang, nggak ada dagingnya. jadi kalau gitu, mending saya anggap saja itu "radio tetangga yang nggak bisa saya offkan" jadi saya ga perlu bales teriak alias stop jadi bensin di percikan api yang siap meledak.

yang keempat:
Otakmu itu kayak komputer yang membuka 50 tabs sekaligus dalam satu waktu. Akibatnya? Hang alias overload. Makanya kamu merasa malas dan lemas ngapa-ngapain, karena energimu sudah habis duluan buat "berantem" sama skenario-skenario masa depan yang bahkan belum tentu terjadi.
wah ini sering banget kejadian. ternyata emang salah satu sumbernya dari "terlalu banyak buka tabs". maka kuncinya fokus ke satu dulu, yang lain NANTI ya.

Photo by Rahul Mishra on Unsplash

yang kelima:
Kamu bekerja di lingkungan yang "interuptif" (banyak gangguan). Kalau kamu gak punya benteng pertahanan, kamu akan terus-terusan jadi korban "pemadam kebakaran"—cuma bisa sibuk memadamkan api yang dibawa orang lain, sementara rumahmu sendiri (target kerjamu) kebakaran.
the point is, saya jangan lagi jadi supervisor dadakan. ngefollow up berkas-berkas yang bukan tugas saya. kalau orang itu nggak peduli, nggak perlu saya dondor. 
FO nggak validasi berkas? biarin aja. itu tugas dia mengecek kok. kenapa harus diingerin terus.
si N nggak follow up rekanan? biarin aja. itu tugas dia kok, kenapa harus saya yang nagih-nagih. kalau nyebrang ke RPD bulan depan, biarin aja. itu bukan tanggung jawab saya sendiri. harusnya setingkat kabag atau WD 2 yang monitoring begitu. lingkup kerjaan saya cukup di "catat kalau sudah cair. catat juga di RPD bulan depan kalau belum cair." udah. jangan keluar batas.

yang keenam:
Pegang Teguh Prinsip "No Written Statement, No Execution"
ini kalau pimpinan nyuruh yang aneh-aneh. jadi aku harus tegas, minta disposisi yang jelas, tandatangan beliau-beliau, karena itu satu-satunya yang bisa jadi pegangan kalau ada pemeriksaan. jadi, jangan korbankan moral dan keselamatan dirimu untuk hal-hal yang nuranimu saja nggak terima, tin.

yang ketujuh:
"Yang penting kan uangnya gak dimakan sendiri, tapi buat operasional kantor." Ini adalah jebakan pembenaran. Secara hukum (UU Tipikor dan aturan perbendaharaan negara), memanipulasi berkas atau membuat SPJ fiktif demi menutup pengeluaran lain tetap dikategorikan sebagai Pelanggaran Administrasi Berat hingga Tindak Pidana Korupsi (Penyalahgunaan Wewenang/Pasal 3), tidak peduli uangnya masuk kantong pribadi atau tidak.
tuh kan. jadi emang bahaya tin. baik secara dunia, apalagi akhirat. entah peruntukannya untuk apa, tapi kalau manipulatif, fiktif, itu GABOLEH. you, get out of this way!!


small steps yang bisa aku mulai dan buat menyenangkan:
1) mandi sebelum jam 6. i think it will work to push me go before 7.15 pagi.
2) buat wadah "nota valid" dan "nota tidak valid" untuk jadi kategori dasar apakah nota itu layak diproses atau tidak. sekalian jadi antrian UP yang saya masukkan. yang lengkap langsung masuk, yang belum lengkap saya kembaliin dulu.
3) buat task card kecil-kecil yang bisa diisi pakai spidol dan dihapus. jadi nggak nyampah kalau udah beres sisa dihapus dan bisa dipakai ulang. cara buatnya mudah cuma butuh kertas (pakai kertas berwarna aja), gunting, dan lakban bening. jadi diisi poin inti tugas, taruh di task box, bentuk antrian. aku ambil dulu yang paling depan untuk dikerjakan. selesai baru pindah ke tugas lain. kalau ada tugas dadakan, tetap harus antri. dikerjakan setelah tugas yang memang tengah aku kerjakan itu selesai. menyerobot antrian tapi nggak sampai ngegantiin yang udah "dilayani" duluan.
4) pulang tenggo, menepi di rumah kakak atau di cafe dekat masjid kalau ada jadwal kajian. jadi menghampiri maghrib bisa langsung cus ke masjid. kalau ga ada kajian, bisa transit di kakak dan pulang habis isya. menepinya itu untuk menulis satu-dua kalimat atau satu satu-dua paragraf di berkas tugas akhirku. jadi nggak nol banget progresnya.

PR besarku:
1) lunasin utang. mohon pertolongan-Mu ya Allah.. untuk memperjelas berapa utangku dan melunasinya.
2) kuat-kuatin beli laptop untuk menyelesaikan tugas akhir. berhenti pakai laptop kantor di rumah.

keep peace in your mind. dan jangan lupa minta tolong sama Allah.

itu dulu deh ya. semoga Allah mudahkan. Aamiin, Allahumma aamiin.

Comments

Popular posts from this blog

arah rotasi patah hati

Photo by Frames For Your Heart on Unsplash semua bermula saat pelukan kak fa terasa begitu personal. padahal ini cuma salam perpisahan biasa; paling cuma salaman, cipika-cipiki, ucapan "fii amanillah", saling mendoakan keselamatan, udah. tapi semalem, emang beda. selain cipika-cipiki, kak fa peluk aku erat, elus-elus pundakku. hanya saja perhatianku sedang teralih membahas soal umur dengan ummu mary dan musf. habis itu aku ke mobil, kak fa bilang lagi, "fii amanillah, tini", kubalas, "iya kak". aku singgahlah beli gorengan karena udah keroncongan sejak habis salat isya tadi. setelah 3 gorengan kulahap, aku iseng buka hp. liat-liat story orang, rata-rata soal berita duka istri ustadz yang baru saja meninggal. trus tiba di statusnya kak fa. biasa lah, poster-poster kajian. dan di story terakhir, eh.. langsung nyess aku langsung lemess tiba-tiba kenyang. tiba-tiba gorengan dan sandwichku ga menarik lagi. tiba-tiba... kerongkonganku tercekat. si fulan akhirnya...

sebuah self reminder

Sepertinya, saya memang terlalu mudah menyesali sesuatu. Meski sudah berulang kali berusaha untuk berhenti mengatakan "seandainya ga milih ini..." atau "coba tadi nggak ikut, pasti bla bla bla..." dan semacamnya. Padahal, yang kayak gitu tuh bikin capek. Udah mah capek raga dari sononya, ditambah ngeluh dan nyesel kayak gitu jadi makin capek sampai ke batin. That's why, i'm writing this post to remind myself. Based on insight tadi malam, masyaAllah, aku mikir "kalau aku menghakimi keputusanku di masa lalu dengan menggunakan pengetahuan dan pengalamanku di masa sekarang, bukankah itu ga adil?" Karena aku yang sekarang sudah nambah pengetahuannya, sudah tahu akibatnya, sudah tahu lebih banyak daripada aku yang dulu, yang ngambil keputusan itu. Kalau waktu diputar dan aku kembali ke diriku yang dulu, dengan pengetahuan dan pengalaman yang sama, bukankah aku akan kembali mengambil keputusan yang sama? Jadi, ngapain nyesel? Bukankah aku sudah mengambil ...

standar kebahagiaan

kalau lagi nyetir selalu aja muncul random thought yang alhamdulillah belakangan ini selalu yang baik-baik sih. misal, tadi pas di jalan ke kemenag.  aku keinget betapa dulu aku begitu terganggu dengan masa depanku di bidang pendidikan dan karir. di usia segini, aku baru D3 dan susah banget buat bisa S1. sedangkan teman-teman seusiaku malah sudah ada yang S2. lah aku, S1 aja belum. umur udah hampir kepala 3 tapi hilal untuk bisa kuliah S1 belum juga terlihat. ya, dulu aku rempong banget ngeluhin itu. menganggap itu sangat gawat dan aku harus segera mencari jalan keluarnya. lalu, ketika sana-sini udah mentok, aku jadi stress sendiri. ngerasa diri nggak berguna, salah milih jalan, kembali menyesali keputusanku di masa lalu karena sudah memilih pekerjaan ini. itu, aku yang dulu. sekarang, aku seolah bisa melihat diriku yang dulu. rasanya geli sendiri. kenapa sih tin, gitu aja direpotin? diizinin buat mengganggu hari-harimu? sampai kamu bela-belain konsul ke psikolog soal itu, iya kan?...