Skip to main content

random thought - ingin beranjak

membaca postingan itu seketika membuatku tertohok. terhempas cukup jauh sampai rasanya butuh waktu bagiku untuk menyadari kalau aku benar-benar tersentil.

padahal, awalnya kukira hari ini akan biasa saja. kerjaanku tidak banyak, hanya finishing beberapa dokumen yang cukup kukerjakan sedikit-sedikit. aku juga sempat membaca buku sebentar. bahkan sempat ngescroll instagram--yang akhirnya mempertemukanku dengan salah satu postingan mba @fahasread itu. mba fa ngereviu buku yang sepertinya butuh untuk kubaca. 

as you know, belakangan ini--ya udah lama juga sih ya--aku ngerasa hilang arah banget. passionku untuk hidup timbul tenggelam. sampai saat ini, rasanya aku banyakan nda minatnya deh buat hidup daripada bersemangatnya.

padahal makin banyak akses untuk hiburan. and i do let myself to get the entertainment as much as i want. tapi kenapa rasanya tetap hampa? hiburan yang kudapatkan sangat segmented, bertahan hanya saat aku tengah menikmati hiburan itu saja. beberapa memang menginspirasi sampai lahir sebuah ide yang bisa kumanfaatkan untuk berkarya. well, itu sisi positifnya. tapi selebihnya, aku tetap merasa kosong.

tanda-tanda kecil sebenarnya sering hinggap. misal pas habis nonton beberapa episode drakor, aku ngebatin sendiri biasanya,

"gils, ini berapa jam habis aku cuma nonton doang. kalau digunain buat dzikir pasti lumayan banget. lebih berfaedah juga."

tapi kemudian aku mengesampingkan perasaan itu. ya iya sih berhenti nonton, tapi nggak mulai dzikir juga. 

pernah juga, aku habis nonton video kompilasi yang ngebahas betapa baiknya kepribadian salah satu member idol grup yang kusuka. dari video itu aku merasa, dia menginspirasiku dan banyak sifat dan sikap baik dia yang bisa kutiru untuk jadi pribadi yang lebih baik. dan kemudian aku keinget kata-kata salah seorang teman,

"udah paling bener ngidolain Rasulullah, tin. beliau teladan yang sesungguhnya. kalau kamu mau ngefans, ya paling tepatnya ngefans ke Rasulullah aja. iya nggak?"
aku membeku di tempat. yesh, it hits me like a truck. beberapa kali juga setelah aku nonton atau baca sesuatu yang karakternya bagus dan menginspirasi, aku jadi mikir, kenapa aku males banget kepoin lebih jauh soal agama? selama ini selalu ngerasa harus hati-hati untuk belajar agama karena takut yang aku baca atau tonton itu tidak valid. tapi, kalau nggak mulai nyari tahu, kapan bakal tahunya, tin? untuk tahu itu valid atau nggak, tentunya butuh ilmu, kan. 

terus dari sana aku mikir, harusnya aku lebih luangin waktu untuk kepoin soal Rasulullah. alih-alih nontonin video soal orang-orang lain yang agamanya aja nggak jelas, bakal lebih bermanfaat buat aku dunia-akhirat kalau nyari tau soal agama, iya kan?

ya, pemikiran itu sering muncul. tapi kemudian kukesampingkan lagi.

hari ini, ada petunjuk kecil lagi.

aku tahu, aku selalu berdoa untuk dibukakan pintu hidayah. jadi, ketika hal seperti ini menyentuh hatiku, aku harusnya cukup peka untuk meneruskannya ke dalam tindakan. atau, minimal, dimulai dari perubahan mindset.

pelan-pelan, aku ingin berubah. mungkin solusi dari keresahan hati yang tak berkesudahan, yang kerap kualami ini, salah satu sumbernya dari sana. memperbaiki diri tentu bakal butuh waktu dan komitmen yang tangguh. aku tahu, menyadari hidayah itu adalah satu hal. perjuangan dalam mempertahankan motivasi untuk berubah itu adalah satu hal yang lain. mungkin akan maju-mundur, keluar-masuk, kadang konsisten kadang nggak, tapi yang pastinya, aku ingin beranjak.

Photo by Dyu - Ha on Unsplash

aku lelah merasa jalan di tempat. terus-terusan kayak gini. terlalu banyak keluhan akan dunia. padahal tempat abadi kita kan di akhirat.

bismillah... tini bisa yuk :)

Comments

Popular posts from this blog

arah rotasi patah hati

Photo by Frames For Your Heart on Unsplash semua bermula saat pelukan kak fa terasa begitu personal. padahal ini cuma salam perpisahan biasa; paling cuma salaman, cipika-cipiki, ucapan "fii amanillah", saling mendoakan keselamatan, udah. tapi semalem, emang beda. selain cipika-cipiki, kak fa peluk aku erat, elus-elus pundakku. hanya saja perhatianku sedang teralih membahas soal umur dengan ummu mary dan musf. habis itu aku ke mobil, kak fa bilang lagi, "fii amanillah, tini", kubalas, "iya kak". aku singgahlah beli gorengan karena udah keroncongan sejak habis salat isya tadi. setelah 3 gorengan kulahap, aku iseng buka hp. liat-liat story orang, rata-rata soal berita duka istri ustadz yang baru saja meninggal. trus tiba di statusnya kak fa. biasa lah, poster-poster kajian. dan di story terakhir, eh.. langsung nyess aku langsung lemess tiba-tiba kenyang. tiba-tiba gorengan dan sandwichku ga menarik lagi. tiba-tiba... kerongkonganku tercekat. si fulan akhirnya...

sebuah self reminder

Sepertinya, saya memang terlalu mudah menyesali sesuatu. Meski sudah berulang kali berusaha untuk berhenti mengatakan "seandainya ga milih ini..." atau "coba tadi nggak ikut, pasti bla bla bla..." dan semacamnya. Padahal, yang kayak gitu tuh bikin capek. Udah mah capek raga dari sononya, ditambah ngeluh dan nyesel kayak gitu jadi makin capek sampai ke batin. That's why, i'm writing this post to remind myself. Based on insight tadi malam, masyaAllah, aku mikir "kalau aku menghakimi keputusanku di masa lalu dengan menggunakan pengetahuan dan pengalamanku di masa sekarang, bukankah itu ga adil?" Karena aku yang sekarang sudah nambah pengetahuannya, sudah tahu akibatnya, sudah tahu lebih banyak daripada aku yang dulu, yang ngambil keputusan itu. Kalau waktu diputar dan aku kembali ke diriku yang dulu, dengan pengetahuan dan pengalaman yang sama, bukankah aku akan kembali mengambil keputusan yang sama? Jadi, ngapain nyesel? Bukankah aku sudah mengambil ...

standar kebahagiaan

kalau lagi nyetir selalu aja muncul random thought yang alhamdulillah belakangan ini selalu yang baik-baik sih. misal, tadi pas di jalan ke kemenag.  aku keinget betapa dulu aku begitu terganggu dengan masa depanku di bidang pendidikan dan karir. di usia segini, aku baru D3 dan susah banget buat bisa S1. sedangkan teman-teman seusiaku malah sudah ada yang S2. lah aku, S1 aja belum. umur udah hampir kepala 3 tapi hilal untuk bisa kuliah S1 belum juga terlihat. ya, dulu aku rempong banget ngeluhin itu. menganggap itu sangat gawat dan aku harus segera mencari jalan keluarnya. lalu, ketika sana-sini udah mentok, aku jadi stress sendiri. ngerasa diri nggak berguna, salah milih jalan, kembali menyesali keputusanku di masa lalu karena sudah memilih pekerjaan ini. itu, aku yang dulu. sekarang, aku seolah bisa melihat diriku yang dulu. rasanya geli sendiri. kenapa sih tin, gitu aja direpotin? diizinin buat mengganggu hari-harimu? sampai kamu bela-belain konsul ke psikolog soal itu, iya kan?...