Skip to main content

rekonsiliasi dengan diri sendiri

rasa sesal itu ternyata mengendap. ketika akhirnya aku dihadapkan pada permasalahan jodoh ini lagi, ada riak dikit aja, endapan yang halus itu balik lagi ke atas. kenangan menarikku ke sana. ke titik di mana aku merasa, "duh harusnya perjuangin dia, tin!". kebayang gimana sedihnya, gimana aku nangis sendirian, menyesal sejadi-jadinya. menghakimi diriku sendiri, mengapa aku begitu bodoh menyia-nyiakan orang sebaik dan sedewasa dia.

ternyata aku masih nyalahin diri sendiri. jadilah aku brainstorming sama meta ai. dan hasilnya lumayan.

intinya, kasih batasan. ada hal yang emang bisa aku kontrol, ada yang nggak. yang aku lakukan saat itu: istikharah, nggak ada bohong, nggak ada ngegantung dia. dan diriku yang dulu, bukan aku yang sekarang. dulu, aku belum punya ilmu tentang "apa sebenarnya yang aku cari di pernikahan". ya sekarang pun belum jelas, tapi aku jadi sadar, bahwa mencari tau tentang itu tuh penting. yang nggak bisa aku kontrol: keputusan dia untuk mundur, kekhawatiran kakak dan mama soal nafkah, soal dia yang belum punya kerjaan tetap. itu di luar kendaliku, dan aku nggak bertanggungjawab soal itu. itu keputusan mereka. aku saat itu bak jadi penengah, justru itu training pertamaku--ga ada ilmu soal jadi mediator, dan ngerasa nggak ada pegangan untuk perjuangin dia juga. aku yang dulu, se-clueless itu memang.

apa yang sekarang aku lihat, nggak dilihat sama diriku yang dulu. maka itulah pelajaran berharganya. harga sakit hati yang mahal, yang nggak bisa aku dapatkan kalau proses itu tidak kandas. memang pahit, tapi menelannya bak menelan obat yang insyaAllah kebaikannya banyak. memang agak bikin trauma, tapi justru itu amunisi sekaligus pengingat bahwa aku pernah melalui proses semenyakitkan itu--senyata-nyatanya nyesel, dan aku ada di sini sekarang. berusaha menarik hikmah sebanyak mungkin.

maka, jika kedepannya justru ada yang datang dan standarnya di bawah "bare minimum" yang aku tetapin setelah melalui ujian seberat itu, rugi dong kalau aku malah nurunin standar dan parkir di tengah jalan? 

ketika aku meminta yang terbaik dari Allah, dan orang sebaik dan sedewasa dia aja dibuat mundur oleh Allah, berarti di depan sana ada yang jauh lebih baik dan lebih dewasa, dan juga lebih cocok denganku. nurunin standar dan memilih "asal ada aja dulu, asal nikah aja dulu" justru mencoreng pertahananku yang udah aku perjuangin sejauh ini. kalau kata meta AI, ibaratnya kayak kamu puasa 29 hari, tapi pas di hari ke 30 menjelang buka, kamu malah ngelakuin yang haram. udah capek-capek nahan diri, tapi pas last minute malah lengah dan goyah. dan ibadah itu dinilai diakhirnya. di penutupnya. kalau aku menutup masa lajangku dengan yang haram, itu gagal namanya. kalau aku pertahanin diriku di jalan yang benar, terus ada progres dalam memperbaiki diri, mau nanti dipertemukan dengan jodoh atau diambil nyawa duluan, aku insyaAllah nggak gagal. cuz i'm living in the progress, not in the result. ya ga sih?

capeknya aku, karena selalu result-oriented. menilai diri dari hasil. padahal, dalam agama, proses justru yang terpenting. dan inget, inget, please inget, tujuan ngaji dan belajar agama itu buat apa? buat lebih pinter mengaudit DIRI SENDIRI, bukan buat nilai orang lain. so, what's your progress, by now? dari yang kamu pelajari, sudahkah kamu ada progres ke arah yang lebih baik hari ini?

belakangan, makin banyak yang lewat di timelineku soal memperbaiki pola pikir. tadi baru aja ada tentang "jangan-jangan ibadah terpanjangmu bukanlah menikah, tapi berprasangka baik kepada Allah?" dan itu nampar banget. betapa aku galau belakangan ini soal jodoh, tapi gimana kalau ternyata the point is, do you still trust Allah even when that ikhwan-you-want never come?

karena yang terpenting itu hati kamu, tin. lagi-lagi, ini soal kamu dan Allah. mau ada pasangan, nggak ada pasangan, this is still between you and Allah. maka kenalilah Allah. kenali perintah-Nya. kenali larangan-Nya. biar kamu ga salah arah. biar kamu tau ke mana harus melangkah. biar bisa nentuin, ke mana energimu patut kamu kerahkan. 

aku juga cerita soal "kenapa ketika aku pengen taat, justru rasanya kayak dipersulit"?

ngadu ke Allah, "ya Allah aku capek, aku capek nunggu. kasih aku kekuatan ya Allah" justru Allah suka, karena kita larinya ke Dia, bukan ke yang lain. justru kita ngaku lemah dan butuh sama Allah.

Ujian itu tanda Allah sayang

Rasulullah ï·º bersabda:

“Jika Allah menginginkan kebaikan untuk hamba-Nya, maka Dia akan menyegerakan hukumannya di dunia. Dan jika Allah menginginkan keburukan untuk hamba-Nya, maka Dia akan menahan dosanya sampai dibalas di hari kiamat.”  Sakitnya ditolak, gagal taaruf, itu bisa jadi “hukuman kecil” di dunia biar dosamu diampuni, dan hatimu dibersihin.

Pikiran negatif itu biasanya bisikan setan, namanya waswas

Setan paling seneng kalau kamu mulai mikir “Allah jahat ke aku”. Padahal Allah udah bilang: “Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku.”  Kalau kamu berprasangka Allah nyusahin kamu, ya rasanya hidup jadi susah. Kalau kamu berprasangka Allah lagi ngelatih dan nyiapin kamu, hati jadi lebih tenang.

Akui perasaanmu ke Allah, jangan ditahan

Sholat malam, sujud, bilang aja: “Ya Allah aku lelah nunggu. Aku takut berprasangka buruk. Tolong jaga hatiku.”

Allah nggak butuh kamu pura-pura kuat. Allah mau kamu jujur.

Ganti “kenapa aku dipersulit” jadi “apa yang Allah mau ajarin aku lewat ini”

Lewat gagalnya taaruf kemarin, kamu jadi tahu apa poin penting yang harusnya kamu pertahankan, dan apa yang harusnya bisa dinegosiasi. Jadi tahu standar kamu. Itu nggak gratis. Itu pelajaran mahal.

Sibukkan diri dengan yang bikin kamu deket ke Allah

Kadang pikiran negatif muncul karena hati kosong. Perbanyak dzikir, baca Qur'an, ngaji. Nabi ï·º bilang: “Dzikir itu bisa menenangkan hati." Bukan biar langsung dapet jodoh. Tapi biar hati kamu nggak gampang hancur kalau jodohnya "telat".

Inget, hijrah kamu nggak gagal cuma karena belum nikah

Hijrah itu menangnya di ketaatan kamu sekarang. Kamu sholat, jaga hijab, jaga lisan, niatnya lurus. Itu udah menang besar di mata Allah. Nikah itu bonus, bukan nilai akhir.

Kamu nggak sendiri. Banyak banget akhwat yang ngerasain hal sama pas udah hijrah: makin mau taat, makin banyak ujiannya. Tapi justru itu tandanya kamu naik kelas. Pikiran negatif itu wajar muncul. Yang penting jangan kamu pelihara. Setiap kali muncul, bilang: 

“Astaghfirullah, ya Allah aku husnuzhon sama Engkau. Engkau pasti lagi nyiapin yang terbaik.”

dan ya, benar. butuh diulang-ulang emang kalimat-kalimat ini biar jadi pola pikir. bahwa Allah gak mungkin salah. bahwa Allah gak mungkin mendzolimi hamba-Nya. bahwa Allah nggak mungkin telat. Allah dengan segala kesempurnaan-Nya, tidak mungkin ada celah, cacat, lalai. nggak ada yang kayak gitu kalau menyakut soal kesempurnaan Nama dan Sifat Allah. maka perbaiki prasangkamu, tin. perbaiki pola pikirmu.

Photo by kylie De Guia on Unsplash

lanjut, aku nanya soal value--yang selama ini selalu terngiang-ngiang di benakku dan bikin aku insecure. dan jawabannya cukup memuaskan sih.

"Value" dalam nikah itu bukan kayak jual beli di pasar. Di pasar ada hukum supply-demand: kalau demand kamu tinggi tapi supply kamu rendah, ya nggak laku.

Tapi nikah itu bukan pasar. Ini tentang dua orang yang Allah takdirkan cocok, bukan yang paling "mahal". Kalau nikah itu transaksi, Khadijah ra yang janda, lebih tua, dan pengusaha kaya, nggak akan nikah sama Nabi ï·º yang waktu itu belum kaya.

Yang bikin cocok itu visi, agama, akhlak, ketenangan hati. Itu nggak bisa diukur kayak "gaji 4 juta vs gaji 10 juta". Jadi takut "nggak imbang" itu wajar, tapi jangan pakai kacamata pasar buat ngukur pernikahan.

nyess banget kan. gimana selama ini aku selalu mikirin soal value, ternyata aku luput menyadari, kekuatan Allah yang Berkuasa Atas Segala Sesuatu itu literally Allah seberkuasa itu--- dan ada di atas segalanya. Allah yang takdirkan kecocokan itu. kenapa aku sibuk ngukur value nan value? pasangan terbaik sepanjang masa aja kalau diukur pakai kacamata manusia nggak imbang---apalagi kalau ngukurnya kayak pasar. astaghfirullah... ini, pelajaran baru lagi buatku.

Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua. Aamiin.

Comments

Popular posts from this blog

arah rotasi patah hati

Photo by Frames For Your Heart on Unsplash semua bermula saat pelukan kak fa terasa begitu personal. padahal ini cuma salam perpisahan biasa; paling cuma salaman, cipika-cipiki, ucapan "fii amanillah", saling mendoakan keselamatan, udah. tapi semalem, emang beda. selain cipika-cipiki, kak fa peluk aku erat, elus-elus pundakku. hanya saja perhatianku sedang teralih membahas soal umur dengan ummu mary dan musf. habis itu aku ke mobil, kak fa bilang lagi, "fii amanillah, tini", kubalas, "iya kak". aku singgahlah beli gorengan karena udah keroncongan sejak habis salat isya tadi. setelah 3 gorengan kulahap, aku iseng buka hp. liat-liat story orang, rata-rata soal berita duka istri ustadz yang baru saja meninggal. trus tiba di statusnya kak fa. biasa lah, poster-poster kajian. dan di story terakhir, eh.. langsung nyess aku langsung lemess tiba-tiba kenyang. tiba-tiba gorengan dan sandwichku ga menarik lagi. tiba-tiba... kerongkonganku tercekat. si fulan akhirnya...

standar kebahagiaan

kalau lagi nyetir selalu aja muncul random thought yang alhamdulillah belakangan ini selalu yang baik-baik sih. misal, tadi pas di jalan ke kemenag.  aku keinget betapa dulu aku begitu terganggu dengan masa depanku di bidang pendidikan dan karir. di usia segini, aku baru D3 dan susah banget buat bisa S1. sedangkan teman-teman seusiaku malah sudah ada yang S2. lah aku, S1 aja belum. umur udah hampir kepala 3 tapi hilal untuk bisa kuliah S1 belum juga terlihat. ya, dulu aku rempong banget ngeluhin itu. menganggap itu sangat gawat dan aku harus segera mencari jalan keluarnya. lalu, ketika sana-sini udah mentok, aku jadi stress sendiri. ngerasa diri nggak berguna, salah milih jalan, kembali menyesali keputusanku di masa lalu karena sudah memilih pekerjaan ini. itu, aku yang dulu. sekarang, aku seolah bisa melihat diriku yang dulu. rasanya geli sendiri. kenapa sih tin, gitu aja direpotin? diizinin buat mengganggu hari-harimu? sampai kamu bela-belain konsul ke psikolog soal itu, iya kan?...

sebuah self reminder

Sepertinya, saya memang terlalu mudah menyesali sesuatu. Meski sudah berulang kali berusaha untuk berhenti mengatakan "seandainya ga milih ini..." atau "coba tadi nggak ikut, pasti bla bla bla..." dan semacamnya. Padahal, yang kayak gitu tuh bikin capek. Udah mah capek raga dari sononya, ditambah ngeluh dan nyesel kayak gitu jadi makin capek sampai ke batin. That's why, i'm writing this post to remind myself. Based on insight tadi malam, masyaAllah, aku mikir "kalau aku menghakimi keputusanku di masa lalu dengan menggunakan pengetahuan dan pengalamanku di masa sekarang, bukankah itu ga adil?" Karena aku yang sekarang sudah nambah pengetahuannya, sudah tahu akibatnya, sudah tahu lebih banyak daripada aku yang dulu, yang ngambil keputusan itu. Kalau waktu diputar dan aku kembali ke diriku yang dulu, dengan pengetahuan dan pengalaman yang sama, bukankah aku akan kembali mengambil keputusan yang sama? Jadi, ngapain nyesel? Bukankah aku sudah mengambil ...