Skip to main content

kalau kamu lupa, sini saya ingatkan

pertama, kriteria yang kamu tetapkan untuk dirimu, itu udah pas dan masuk akal. nggak berlebihan. dan kamu harus percaya, Allah nggak pelit. kamu minta, Allah kasih. maka jangan ragu. kalau yang kamu mau udah ada di kepala, minta. inget, kriteria yang udah kamu tetapkan sejauh ini:

sholeh dan bertakwa

ini gabisa dinego. kalau ini nggak ada, yang lain nggak ada artinya. nggak ada istilah "nanti bisa dibimbing jadi sholeh". kamu mau berumah tangga--jadi istri, jadi yang dipimpin--bukan mau kontribusi di proyek dakwah. kalau dia nggak ngerti agama, sementara kamu insyaAllah istiqomah untuk terus belajar agama, nanti kamu yang capek ngingetin dia tiap hari.
tau halal-haram dasar is a must. atau minimal, kalau dia masih awam, ketika kamu bilang menyentuh yang bukan mahrom itu dosa, dia nggak ngetawain atau ngeles. tapi dia jadi sadar, dan nggak malu mengakui "duh selama ini saya salah. masih banyak yang perlu saya pelajari nih." ---ini kan yang ada di kepalamu, ini respon yang kamu pengen. tapi Allah Maha Kaya kok.. minta yang udah paham halal-haram dasar, harusnya optimis bisa lah tin.

bisa jadi imam dan pemimpin yang baik dan benar untuk hal-hal dunia dan akhirat

karena dia yang bakal jawab di hadapan Allah soal kamu dan anak-anakmu nanti. kalau dia nggak paham tanggung jawab ini, kamu yang bakal capek sendiri.
orang yang, pertama-tama, bisa jadi imam untuk dirinya sendiri; serius sama Allah dan nggak main-main sama tiang agama (sholat), nggak gampang meledak pas kamu beda pendapat tapi diem dan mikirin dulu, amanah---utamanya soal uang. kalau imamin diri sendiri aja liar, kamu yang bakal capek jadi "rem"nya terus.
imam atau pemimpin, itu punya arah, punya visi ke depannya. kalau dia pas ditanya masa depan, jawaban andalannya cuma "terserah kamu aja" atau malah balik nanya, "kamu maunya gimana?" ya itu red flag. imam itu yang ngajak istrinya jalan bareng ke tujuan, bukan ngalir aja atau bahkan nanya ke kamu baiknya gimana.
pemimpin yang baik nggak alergi salah, jadi mau dikritik dan mau belajar. mau berubah kalau memang dia yang salah. misal dalam tahap kenalan, kamu ngasih batasan tertentu, dia nggak ngejudge kamu ribet atau buru-buru. tapi dia hormati batasan itu---apalagi kalau kamu udah jelasin alasannya dan itu make sense.
pemimpin yang baik itu lebih takut sama Allah daripada takut kehilangan kamu. kalau dia lebih takut salah di hadapan kamu tapi berani salah di hadapan Allah, bisa jadi nanti dia berkompromi ke hal-hal yang harusnya nggak boleh dikompromi dalam hal hukum-hukum dan syari'at Allah.
kalau kata meta AI, bayangin kamu lagi sakit, bingung, atau lagi down. apakah kamu tenang kalau orang ini yang mengambil keputusan untuk dirimu dan keluargamu? apakah kamu yakin dia bakal nanya "gimana baiknya menurut Allah" daripada mengutamakan gimana enak dan amannya menurut dia?

tidak kasar perkataan dan perbuatannya

rumah tangga butuh rasa aman dan nyaman. laki-laki yang kasar itu ga akan berubah jadi lembut setelah nikah--malah kadang makin menjadi. begitupun dengan omongan yang sering kasar. rasa aman yang kamu butuhin itu dari fisik dan mental, apalagi kamu gasuka orang ngomong kasar dan gampang ilfil kalau denger yang kasar-kasar. maka ini wajib diperhatikan dan dijadikan pertimbangan.
cek cara dia ngomong pas kalian beda pendapat. kalau dia gampang defensif dan bikin kamu yang merasa bersalah atau bahkan terang-terangan nyalahin kamu, itu bakal bikin capek. 

direstui orangtua

ini biar berkah. kadang kalau ortu nggak restuin--apalagi ada alasan yang jelas, berarti itu ada hikmahnya. jangan ngelawan. kecuali kalau nggak ngerestuin karena agamanya terlalu bagus, nah itu aneh. 

karakternya cocok denganmu

mulai dari sini, bisa lah dinego. karena kecocokan itu nggak bisa sama 100%. yang penting ada chemistry dasar: ngobrol enak, saling denger, mau minta maaf. kalau kata maudy ayunda, cara nyelesaiin masalahnya sama, atau cocok, misal kamu kalau ada masalah stylenya diomongin trus dicari solusinya sama-sama, dan ga ngilang atau dieeem aja. nah, kalau dia juga caranya gitu, berarti cocok. karena masalah pasti ada aja, maka kita harus tau gimana dia kalau menghadapi masalah. kaburkah, atau kencengin komunikasi biar ga miskom dan ga berlarut-larut tuh masalah.

dermawan

yang penting polanya, bukan jumlahnya. dia suka berbagi baik itu ke orangtuanya, saudaranya, temannya, ataupun ke orang-orang yang butuh. kalau dia pelit ke mereka, kemungkinan juga bakal pelit ke kamu. apalagi kamu prinsipnya "sedekah itu transfer dari rekening dunia ke rekening akhirat" kan. kalau dianya nggak setuju akan hal itu, bakal susah. kamu mau sedekah ntar dilarang-larang. atau kamu ajakin sedekah dia ngeles mulu. ntar kamu yang kesel sendiri, gemes dan ngedumel sendiri. janganlah tin. capek di kamu nanti. makanya ini penting untuk dicocokin juga. soal gimana cara pandang dia tentang "rezeki".

tampan menurutmu

ini hak kamu. dan inget, ketampanan itu luntur. yang bikin betah itu lebih ke akhlak dan ketenangan yang dia bawa bersamanya. pakai ini buat nyaring di awal aja, bukan jadi penentu akhir. misal dia nggak punya semua kriteriamu tapi dia punyanya tampang doang, mending jangan deh.

ada kemampuan menafkahi

gaji kecil bisa dinego, yang penting dia jujur dan terbuka soal keuangan, mau dan ngerti tanggung jawabnya, mau berusaha. kalau mentalnya nggak mau tanggung jawab, mending nggak usah. kamu bukan cewek yang suka foya-foya kok. masak pun bukan yang wah banget. paling tahu tempe, ayam, sayur mayur. skincare juga nggak ribet. yang perlu duit banyak paling untuk tabungan--haji, umroh, kesehatan, sedekah. yang penting juga, prioritas kamu sama dia soal kelola keuangan itu sama. apa yang urgent bagi dia, apakah urgent juga buatmu? misal beli banyak gadget atau update ke gadget terbaru. kamu kan nggak di situ mainnya. dia gitu juga nggak.
selain itu, soal kerjaan juga, apakah dia berhati-hati. nyambung ke poin pertama ini.

Photo by Drew Beamer on Unsplash


kedua, kamu nggak perlu nunggu nikah dulu untuk:

explore tempat kajian offline yang ada di makassar dan sekitarnya

oke, untuk ikut half deen series emang kudu ada mahrom karena itu itungannya safar, tapi selain itu masih banyak kajian yang belum kamu datangi. masjid-masjid sunnah yang bisa banget kamu ke sana sendiri. nggak perlu nunggu dianterin, disupirin, ditemenin. sendiri aja dulu, kalau Allah belum kasih partner halalnya.
kemarin, misalnya, kamu udah coba kajian di masjid kubah 99 asmaul husna. alhamduillah. next, coba explore tempat yang lain lagi. ke sana lagi, juga boleh. kan udah ada bayangan jadi nggak perlu salah belok lagi dong ya hehe.

belajar soal hak suami, hak istri

ini mah nggak ada yang larang. justru dengan tau hak suami sejak dini, kamu jadi bisa menakar, apakah cowok tersebut patut jadi tempatmu mencurahkan diri dan mengamalkan ilmu-ilmu syar'i yang selama ini kamu pelajari? apakah dia "tempat" yang tepat?
lagian, proses belajar itu sendiri aja udah dinilai pahala. kamu amalkan ketika Allah kasih jodoh dari-Nya. kalau belum, sabar menanti sembari belajar pun dobel-dobel pahalanya kan. insyaAllah.. lurusin niat ya.

belajar soal parenting dalam islam

sebelum dapat amanah yang lebih besar, kamu bisa amalin ilmu parenting itu ke diri sendiri (re-parenting yourself) atau pun ke ponakan. kalau udah ngalamin, atau hari-hari menjadi orangtua udah di depan mata, kamu tinggal call back apa aja ilmu yang pernah kamu pelajari. 
bisa jadi bahan nyocokin juga dengan calon imam nanti, apakah dia sejalan sama kamu dalam hal mengurus dan mendidik anak. atau dia punya cara yang lebih cemerlang? kamu nggak buta-buta amatlah soal ini. harusnya ya.
dan nggak perlu nikah untuk bisa dapat pahala ini, loh.

niat haji dan umroh

emang di otak kamu masih terngiang "kan belum ada mahromnya". lah, itu kan urusan Allah. kamu ikhtiar aja lewat niat yang tulus. nabung duluan. kalau jujur dan terus minta sama Allah, insyaAllah kebuka juga jalannya, mau itu beneran sama suami ke sananya, atau sama mahrom yang lain. intinya kamu minta untuk haji dan umroh sesuai sama syari'at Allah.


sekian dulu deh.

semoga Allah memberi taufik kepada kita semua. Aamiin.

Comments

Popular posts from this blog

arah rotasi patah hati

Photo by Frames For Your Heart on Unsplash semua bermula saat pelukan kak fa terasa begitu personal. padahal ini cuma salam perpisahan biasa; paling cuma salaman, cipika-cipiki, ucapan "fii amanillah", saling mendoakan keselamatan, udah. tapi semalem, emang beda. selain cipika-cipiki, kak fa peluk aku erat, elus-elus pundakku. hanya saja perhatianku sedang teralih membahas soal umur dengan ummu mary dan musf. habis itu aku ke mobil, kak fa bilang lagi, "fii amanillah, tini", kubalas, "iya kak". aku singgahlah beli gorengan karena udah keroncongan sejak habis salat isya tadi. setelah 3 gorengan kulahap, aku iseng buka hp. liat-liat story orang, rata-rata soal berita duka istri ustadz yang baru saja meninggal. trus tiba di statusnya kak fa. biasa lah, poster-poster kajian. dan di story terakhir, eh.. langsung nyess aku langsung lemess tiba-tiba kenyang. tiba-tiba gorengan dan sandwichku ga menarik lagi. tiba-tiba... kerongkonganku tercekat. si fulan akhirnya...

standar kebahagiaan

kalau lagi nyetir selalu aja muncul random thought yang alhamdulillah belakangan ini selalu yang baik-baik sih. misal, tadi pas di jalan ke kemenag.  aku keinget betapa dulu aku begitu terganggu dengan masa depanku di bidang pendidikan dan karir. di usia segini, aku baru D3 dan susah banget buat bisa S1. sedangkan teman-teman seusiaku malah sudah ada yang S2. lah aku, S1 aja belum. umur udah hampir kepala 3 tapi hilal untuk bisa kuliah S1 belum juga terlihat. ya, dulu aku rempong banget ngeluhin itu. menganggap itu sangat gawat dan aku harus segera mencari jalan keluarnya. lalu, ketika sana-sini udah mentok, aku jadi stress sendiri. ngerasa diri nggak berguna, salah milih jalan, kembali menyesali keputusanku di masa lalu karena sudah memilih pekerjaan ini. itu, aku yang dulu. sekarang, aku seolah bisa melihat diriku yang dulu. rasanya geli sendiri. kenapa sih tin, gitu aja direpotin? diizinin buat mengganggu hari-harimu? sampai kamu bela-belain konsul ke psikolog soal itu, iya kan?...

sebuah self reminder

Sepertinya, saya memang terlalu mudah menyesali sesuatu. Meski sudah berulang kali berusaha untuk berhenti mengatakan "seandainya ga milih ini..." atau "coba tadi nggak ikut, pasti bla bla bla..." dan semacamnya. Padahal, yang kayak gitu tuh bikin capek. Udah mah capek raga dari sononya, ditambah ngeluh dan nyesel kayak gitu jadi makin capek sampai ke batin. That's why, i'm writing this post to remind myself. Based on insight tadi malam, masyaAllah, aku mikir "kalau aku menghakimi keputusanku di masa lalu dengan menggunakan pengetahuan dan pengalamanku di masa sekarang, bukankah itu ga adil?" Karena aku yang sekarang sudah nambah pengetahuannya, sudah tahu akibatnya, sudah tahu lebih banyak daripada aku yang dulu, yang ngambil keputusan itu. Kalau waktu diputar dan aku kembali ke diriku yang dulu, dengan pengetahuan dan pengalaman yang sama, bukankah aku akan kembali mengambil keputusan yang sama? Jadi, ngapain nyesel? Bukankah aku sudah mengambil ...