Skip to main content

Posts

catatan sembari baca #1

membaca sirah nabawiyah sejak akhir bulan lalu, sampai sekarang aku baru di setengah bukunya. ada dua poin yang sangat merekat dalam benakku sejauh ini; hidayah Allah benar-benar sesuatu yang misterius. manusia mana pun tidak akan pernah bisa punya kemampuan untuk mengatur siapa yang patut dapat hidayah dan siapa yang tidak. paman Nabi ï·º saja, Abu Thalib, adalah sosok yang sangat baik dan senantiasa melindungi Rasulullah ï·º, membelanya, tapi tidak pernah tergerak untuk masuk Islam bahkan sampai akhir hayatnya. padahal kalau standar penilaian manusia, orang seperti Abu Thalib sudah pasti layak masuk surga karena banyak kebaikan yang ia lakukan semasa hidupnya. tapi nyatanya, tidak demikian. sebab tiket pertama untuk mendapatkan pahala dan masuk surga adalah memeluk agama Islam dulu. dulu, aku sering mikir, kalau semua yang akan terjadi di masa depan sudah diatur bahkan sebelum kita lahir, terus untuk apa berusaha dan berdoa? bukankah keinginan untuk berdoa dan berusaha, malas-malasan, da...

jika maut menjemput, apa kau sudah siap?

satu lagi teman baik yang udah dipanggil duluan. tiap dapat kabar duka begini, aku teringat lagi, sejatinya, kita nih di dunia benar-benar cuma nunggu giliran dipanggil oleh-Nya ya. kira-kira kapan giliranku?  orang baik katanya selalu dipanggil duluan. sebab Allah sudah rindu padanya. sebab, Allah ingin melindunginya dari kengerian hari kiamat.  untuk itu, aku selalu "iri" pada mereka. teman-teman yang sudah dipanggil duluan, yang kini tugasnya di dunia sudah selesai. kesempatan untuk beramal (juga berbuat dosa) telah dihentikan. mereka benar telah pergi untuk selama-lamanya bersama bekal yang selama ini telah mereka tanam di dunia.  hal itu membuatku kembali bercermin, begitu banyak keresahan dunia yang menjadikan hati dan pikiranku memburuk. padahal ada yang lebih hakiki, lebih urgent untuk diberi perhatian dan diperbaiki. kesiapan untuk menghadapi kematian. sudah cukupkah amalanku selama ini? sudah siapkah aku kalau maut menjemput? begitu banyak dosa sampai aku merasa...

random thought - ingin beranjak

View this post on Instagram A post shared by f.a fa 👋 (@fahasread) membaca postingan itu seketika membuatku tertohok. terhempas cukup jauh sampai rasanya butuh waktu bagiku untuk menyadari kalau aku benar-benar tersentil. padahal, awalnya kukira hari ini akan biasa saja. kerjaanku tidak banyak, hanya finishing beberapa dokumen yang cukup kukerjakan sedikit-sedikit. aku juga sempat membaca buku sebentar. bahkan sempat ngescroll instagram--yang akhirnya mempertemukanku dengan salah satu postingan mba @fahasread itu. mba fa ngereviu buku yang sepertinya butuh untuk kubaca.  as you know, belakangan ini--ya udah lama juga sih ya--aku ngerasa hilang arah banget. passionku untuk hidup timbul tenggelam. sampai saat ini, rasanya aku banyakan nda minatnya deh buat hidup daripada bersemangatnya. padahal makin banyak akses untuk hiburan. and i do let myself to get the entertainment as much as i want. tapi kenapa rasanya tetap hampa? hiburan yang kudapatkan sangat segmente...

fokus ke yang lain aja

belakangan ini aku sering kepikiran soal lanjut studi yang tak kunjung menemukan titik terangnya. rasa kesal bercampur marah (eh itu sama aja ya wkwk) menggerogotiku. rasanya nggak enak. ya wajar sih, soalnya emang di sini nih yang nyebelin. di tempat lain oke-oke aja lanjut studi mah. ah, stop. aku nggak mau bahas itu. bikin makin kesel aja.  jadi aku memutuskan untuk memikirkan hal lain saja. masalah lanjut studi ini tidak bisa menemukan titik terang selama pimpinannya masih mereka. di jalan pulang kemarin, aku juga mikir. seberapapun kesal dan marahnya aku, tetap nggak bisa apa-apa. aku terdesak karena merasa umur sudah segini dan belum S1 juga. lagi-lagi aku kesal pada diri sendiri karena mempermasalahkan soal umur lagi. padahal aku yang ingin bebas dan benci dikekang, tapi nyatanya aku yang mengekang diriku sendiri dan membuatnya terpuruk dengan memberikan target dan batasan ini-itu soal umur. lalu kenapa aku harus repot-repot sampai mengganggu hari-hariku karena sesuatu yang ...

mungkin aku tahu yang kamu rasakan

bukan karena efek nonton drama korea LINK ya ini hihi aku cuma ngerasa aja, belakangan ini, kayaknya aku paham deh apa yang kamu rasakan. kayaknya aku sekarang ditempatkan di posisi yang sama, biar tahu, gini loh rasanya jadi kamu. HAHA kayak keganggu, tapi gaenak bilangnya. meski aku super bodo amat lebih sering ngomong langsung kalau ada yang mengganjal, tapi aku tetep ngerasa harus jaga kesopanan dan perasaan dia. gimana pun, dia juga berharga dan aku ga boleh merusak rasa percaya dirinya itu. lagipula yang aku rasakan nggak ada hubungannya sama seberapa berharga dia. aku cuma ngerasa nggak cocok aja. udah.  the other reasons are, pertama, dia nggak salah apa-apa. aku sendiri yang waktu itu bilang aku tidak sedang menutup diri--in fact, aku masih proses self healing dan aku kira dengan adanya dia bisa ngebantu. tapi seiring berjalannya waktu, aku malah makin terperosok pada perasaan negatif. dan yang kutemukan malah kesadaran akan perasaanku ini. kedua, dia rekan kerja yang masi...

random thought - new song = new people?

apakah menemukan orang baru yang cocok dengan kita akan sama kebetulannya dengan menemukan lagu baru yang cocok masuk playlist ketika iseng berselancar di spotify? Photo by charlesdeluvio on Unsplash baru-baru ini aku menemukan lagu dari homecomings, judulnya "i care". aku hanya iseng mengklik bagian announcement spotify--yang selama ini selalu tak kuhiraukan kecuali yang muncul di sana adalah penyanyi yang kukenal. tapi saat itu, aku bahkan belum mengenal siapa itu homecomings. mereka berasal dari mana. seperti apa musiknya. aku hanya asal klik, dan tanpa pikir panjang juga langsung play aja. semua hanya berdasarkan iseng belaka. tapi tahunya, lagu itu sesuai dengan seleraku. musiknya, vocalnya, meski aku sama sekali tidak tahu arti lirik lagunya apa. seketika, aku mendengarkan lagu itu berulang-ulang. sampai besoknya dan besoknya lagi. lagu itu masuk ke playlistku dalam sehari. bahkan kushare di sosmed saking inginnya aku orang-orang mendengarkan lagu itu juga. well, apakah...

random thought - doesn't fit me

you know what, tin? mikirin dia tuh kayak mikirin baju yang kamu taksir di toko tapi ukurannya nggak ada yang pas sama kamu. terus kamu uring-uringan sampai rumah, sampai berhari-hari, mikirin andai baju itu punya ukuran yang pas sama kamu, andai kamu lebih cepat ketemu sama baju itu sebelum stok ukurannya habis, andai, andai, dan andai. inget nggak kalau kebanyakan 'andai' bisa bikin kamu pelan-pelan jadi gila? jadi ngarepin hal yang nggak mungkin? jadi ngelakuin hal yang nggak berguna? so, terima nasib aja. ukuran baju itu, yang pas buat kamu, udah habis. atau emang nggak diproduksi dari sononya. yang artinya, baju itu sejak awal kamu diciptakan, emang nggak ditakdirkan buat kamu miliki. mungkin kamu bisa ketemu sama baju itu, hidup kamu bersinggungan dengannya. kamu bahkan pernah nyobain baju itu dan sempat ngerasa nyaman. sampai akhirnya kamu sadar, eh kok lengannya kegedean ya? eh kok pinggangnya terlalu panjang ya? dan hal-hal lain yang bikin kamu jadi mikir ulang buat be...