Skip to main content

sela-sela tanya dan gerak-gerik khayal

dia bisa kok serius, kalau soal kerjaan. dia bisa kok teliti, bisa ga typo, bisa komitmen. tapi nggak, kalau sama saya.

ya udah, simple.

itu artinya, dia memang nggak serius sama saya. nggak nganggep prioritas. nggak nganggep itu urgent dan important. kalau di eisenhower matriks mungkin masuk kategori "plan" but without any intention to give a due date or take any action. plan, tapi gatau kapan. ya bukan plan dong ya wkwk gausah denial emang masuk kategori "delete" aja udeh 😏 karena kan emang dilupain.

okelah dia sibuk, ada pelatihan sana-sini, kerjaan juga ga habis-habis, tapi kan di atas semua itu, kalau emang niat, pasti ada aja caranya. ada aja jalan yang bisa ditempuh. slow but sure is still okay. tapi ini, kayaknya emang nggak seniat itu. dikasih syarat dikit, mundur, udah.

yang aku nggak habis pikir, dia tuh menggebu-gebu kalau ngomong. mantep. seolah yakin. tapi apa? janji ngasih kabar seminggu, eh taunya sampai sekarang--udah sebulan kayaknya deh, tetep nggak ada kabar. dan kayaknya dia udah biasa aja. bahkan udah ga mau repot-repot ngasih alasan lagi, nggak ada menyinggung soal itu lagi. jadi udah. done. finish. 

terima saja, tin. emang dia seperti itu, dan bukan tugas kamu untuk mengubahnya.

so give that memory a way out. let your mind be free from anything he had said, he had acted, he had treated you before. let them go, and delete him.

Photo by Studio 74 on Unsplash

dulu, saya ngejar kepastian dia. mau maju atau mundur. tapi kenapa harus nunggu dia yang memutuskan, kalau ini demi ketenangan saya sendiri? dia aja enjoy dengan hidupnya kok, kenapa saya harus capek-capek kepikiran?

yang bikin nyes juga, saat dia bilang "oh jadi kamu nggak nyaman kerja gara-gara saya bilang suka? selama ini kamu kepikiran, ya?" it is sounds like "kamu goyah karena kata-kata suka dari aku? omg, kamu mudah banget dipengaruhi, kenapa lemah banget sih jadi orang." to me 😑

sejak awal, dia udah ngga punya arah yang jelas. beraninya bilang suka doang, ditanya selanjutnya mau gimana, dia nggak bisa jawab. emang cuma enjoy the moment of "menyatakan perasaan" aja deh kayaknya. selebihnya dia nggak mau pusing. atau dia emang belum siap untuk kembali bertanggungjawab soal pernikahan dan segala hal-hal di dalamnya. opsi saya kan jelas, kalau mau lanjut, ngomong sama kakak saya sebelum ketemu sama mama, karena itu filter pertama yang bisa bantu saya melihat dia orangnya gimana. minimal, iyain dulu kek untuk ngobrol serius di jalur yang benar sesuai agama. ini malah dia nanya terus, "emang harus kayak gitu ya?" or "untuk apa saya ketemu sama kakak kamu, kita kan bisa ngobrol saling kenal kayak gini aja, lebih simple." sooooo he missed the point!

jawaban dari doa-doa istikharah itu, untuk saat ini, ya ini. menutup bab ini dengan kesunyian yang sama seperti saat malam itu dia menyatakan perasaannya dalam sepi jua. 

orang yang tepat untukku, harusnya ga bikin gelisah, ga bikin saya abu-abu. ga bikin saya capek duluan kayak gini, kayak nyeret beban yang ga jelas juga ntar ujungnya beneran buat saya atau nggak nih.

Ya Allah, takdirkanlah, mudahkanlah, dan berkahilah hamba untuk menikah dengan laki-laki yang sholeh, bertakwa, bisa jadi imam yang baik di dunia sampai ke urusan akhirat, tidak kasar perkataan dan perbuatannya, tampan nan dermawan, karakternya cocok dengan saya, direstui orangtua, dan punya tanggung jawab untuk menafkahi. datangkanlah, takdirkanlah, dan mudahkanlah hamba untuk dihalalkan oleh laki-laki yang jelas, tenang, dan nggak perlu sembunyi-sembunyi, ga bikin saya takut karena melanggar aturan-Mu--justru pengennya dia yang menjadi imam dan memimpin saya untuk jadi lebih taat kepada-Mu, Ya Allah..

Ya Allah.. perkenanlah, kabulkanlah.. Aamiin.

Comments

Popular posts from this blog

arah rotasi patah hati

Photo by Frames For Your Heart on Unsplash semua bermula saat pelukan kak fa terasa begitu personal. padahal ini cuma salam perpisahan biasa; paling cuma salaman, cipika-cipiki, ucapan "fii amanillah", saling mendoakan keselamatan, udah. tapi semalem, emang beda. selain cipika-cipiki, kak fa peluk aku erat, elus-elus pundakku. hanya saja perhatianku sedang teralih membahas soal umur dengan ummu mary dan musf. habis itu aku ke mobil, kak fa bilang lagi, "fii amanillah, tini", kubalas, "iya kak". aku singgahlah beli gorengan karena udah keroncongan sejak habis salat isya tadi. setelah 3 gorengan kulahap, aku iseng buka hp. liat-liat story orang, rata-rata soal berita duka istri ustadz yang baru saja meninggal. trus tiba di statusnya kak fa. biasa lah, poster-poster kajian. dan di story terakhir, eh.. langsung nyess aku langsung lemess tiba-tiba kenyang. tiba-tiba gorengan dan sandwichku ga menarik lagi. tiba-tiba... kerongkonganku tercekat. si fulan akhirnya...

[Tips] Biar Bisa Bangun Pagi

sumber Dari dulu sampai sekarang, bangun pagi itu selalu dianggap sangat sulit untuk dilakukan. Godaan dari kasur yang tiba-tiba menjadi semakin empuk sampai selimut yang secara naluriah menjadi semakin hangat. Padahal, kata iklan yang pernah ngetop di tv, kalau kita tidur pagi tuh rejeki kita bisa dipatok ayam, ayam, ayam *ngikutin iklannya ._. Bagi sebagian orang rajin dan soleh  mungkin mudah untuk bangun pagi. Entah karena udah kebiasaan dari kecil selalu dilarang untuk tidur setelah sholat subuh, ataupun karena emang dari malem sampai pagi lagi nggak tidur-tidur karena ngestalk timeline si dia. Oke, ini miris :( Tuntutan sekolah, kuliah, ataupun kerjaan seringkali membuat kita harus bangun pagi. Apalagi yang kuliah nih, kalau jatah absen udah habis, bisa-bisa ngulang lagi taun depan buat matkul paginya cuma gegara kehadirannya kurang. Ih serem :( Di bawah ini sedikit tips yang bisa kalian coba biar bisa bangun pagi! 1. Setel Alarm sumbe r Ini yang paling mains...

sebuah self reminder

Sepertinya, saya memang terlalu mudah menyesali sesuatu. Meski sudah berulang kali berusaha untuk berhenti mengatakan "seandainya ga milih ini..." atau "coba tadi nggak ikut, pasti bla bla bla..." dan semacamnya. Padahal, yang kayak gitu tuh bikin capek. Udah mah capek raga dari sononya, ditambah ngeluh dan nyesel kayak gitu jadi makin capek sampai ke batin. That's why, i'm writing this post to remind myself. Based on insight tadi malam, masyaAllah, aku mikir "kalau aku menghakimi keputusanku di masa lalu dengan menggunakan pengetahuan dan pengalamanku di masa sekarang, bukankah itu ga adil?" Karena aku yang sekarang sudah nambah pengetahuannya, sudah tahu akibatnya, sudah tahu lebih banyak daripada aku yang dulu, yang ngambil keputusan itu. Kalau waktu diputar dan aku kembali ke diriku yang dulu, dengan pengetahuan dan pengalaman yang sama, bukankah aku akan kembali mengambil keputusan yang sama? Jadi, ngapain nyesel? Bukankah aku sudah mengambil ...