Skip to main content

Posts

So, he once told me this...

Ngobrol sama dia tuh selalu mengacak-acak hati deh. Setelah dia 'berkunjung', aku harus merapikan semua kekacauan dan kembali ke 'dunia nyata'ku. Tapi tetep aja selalu keinget. Ga tau kenapa ya, selalu ada sesuatu di sekitarku yang bikin keinget (atau akunya aja yang gampang keinget ya? LOL) So, he once told me this... Photo by  Priscilla Du Preez  on  Unsplash  (gambar hanya untuk mempermanis ya~) Jadi dia habis ikutan kegiatan kantornya gitu kan, dan katanya rame banget. he: iya momen buat banyakin kenalan, ya kalau teman ga tau dah asal kenal aja dulu. cocok masukin list me: yaaa masukin list ***, list buat dikasih undangan kan nanti he: sabar tin, aku cari orang yg bisa nemenin namaku dulu di undangan nanti me: emang aku terkesan pengen diundang ya? aku kan pengennya... apa ya (ceritanya pengen ngode namanya gamau di list undangan tapi jadi pendamping HAHAHA) he: kamu pengen jadi wedding organizernya? me: wah perihhhh makasih udah kasih ide ***, ...

Mereka semua berakhir di draft...

Aku kenal seseorang yang cukup aneh. Dia berubah entah sejak kapan, tapi aku ingat dulu dia tidak seperti sekarang. Makin ke sini, dia makin menutup dirinya dari orang lain. Dia risih ketika ada yang memperhatikannya. Dia ingin orang-orang menganggapnya tidak ada. Belakangan ini, dia disibukkan oleh rutinitas ala pekerja kantoran. Pergi pagi pulang malam, sampai rumah main bentar dengan keponakannya--sekadar berusaha menjadi diri sendiri setelah seharian menjadi orang lain. Setelah itu dia akan tertidur pulas dan bangun lagi besok subuh. Kabar baiknya, tidurnya jadi nyenyak--kecuali kalau maagnya kambuh, dia bisa nangis terus semaleman. Tapi kabar buruknya, dia pelan-pelan jenuh dengan semua itu. "Mungkin ini hanya perasaan sementara, rasa bosan memang bisa datang kapan saja, nanti juga bakal semangat lagi," begitu cara dia menenangkan diri sendiri. Di tengah kesibukan nya itu, dia seringkali ingin meluangkan waktu untuk menulis. Dia rindu pada aksara, ingin menuliskan ...

[Review Novel] Walking After You - Windry Ramadhina

Judul: Walking After You Sub Judul: Kau tak perlu melupakan masa lalu. Kau hanya perlu menerimanya. Penulis: Windry Ramadhina Penerbit: Gagasmedia Tahun Terbit: 2014 Tebal halaman: viii + 320 hlm; 13 x 19 cm ISBN: 979-780-772-X Genre: Romance, Family, Cooking Format: Paperbook Selesai baca: Januari 2015 Blurb: Masa lalu akan tetap ada. Kau tak perlu terlalu lama terjebak di dalamnya. Pada kisah ini, kau akan bertemu An. Perempuan dengan tawa renyah itu sudah lama tak bisa keluar dari masa lalu. Ia menyimpan rindu, yang membuatnya semakin kehilangan tawa setiap waktu. Membuatnya menyalahkan doa-doa yang terbang ke langit. Doa-doa yang lupa kembali padanya. An tahu, seharusnya ia tinggalkan kisah sedih itu sejak berhari-hari lalu. Namun, ia masih saja di tempat yang sama. Bersama impian yang ternyata tak mampu ia jalani sendiri, tetapi tak bisa pula ia lepaskan.  Pernahkah kau merasa seperti itu? Tak bisa menyalahkan siapa-siapa, kecuali ...

Lihat lebih dekat~

Kalau banyak orang yang sentimen dan menganggap remeh hal-hal berbau korea, aku memang bisa mengerti. Korea terlalu erat dikaitkan dengan operasi plastik, kpop, bahkan atheisme. Ya, memang banyak hal seperti itu di sana, setauku. Tapi, bukan berarti kita harus menutup mata dan berpaling sepenuhnya dari mereka. Karena hal-hal berharga dan bermakna tidak selalu datang dari orang berderajat tinggi, berpendidikan tinggi, ataupun berpengetahuan agama yang tinggi. Ada kemungkinan juga, kita dapat memetik pelajaran berharga yang meski sederhana dari beberapa orang 'biasa'. Jujur saja, meski aku lebih sering terlihat antusias terhadap kpop, namun belakangan ini aku merasa hal itu adalah sesuatu yang salah. Aku membuang-buang waktuku menonton video mereka, atau membaca artikel mereka. Ya, memang benar sih itu menghibur, tapi aku jadi tidak produktif. Pikiran itu menghantuiku, sampai aku merasa aku harus mengurangi kegiatan itu. Kalau perlu, aku harus berhenti. Dan kemudian, GOT7 mel...

How I escape

Eniwei, saat sedang tertekan, merasa dikekang, atau stress, aku sering 'kabur' dengan berbagai macam cara. Misalnya; Berbenah kamar/rumah/kosan image source: pinterest Entah dengan sihir apa--meski sebenarnya nggak pake sihir apa-apa sih lol--berbenah tuh seringkali berhasil ngasih energi positif ke badan dan pikiranku. Berbenah di sini lebih ke beresin meja, nyapu ngepel, atau sekadar nyuci kaos kaki dan nyuci piring sih. Rasa capek yang terasa setelah aktivitas yang melelahkan itu kayak terapi gratis yang bikin pikiranku tenang, dan perlahan-lahan minta istirahat. Meski lebih sering tidak menyelesaikan masalahku, tapi setidaknya aku merasa produktif karena berhasil membersihkan ruangan, pakaian, dan alat makanku xD Menulis di kertas/laptop/blog image source: freepik Kadang saking dalamnya suatu perasaan, baik perasaan senang maupun sedih, aku sampai tidak bisa berkata-kata di depan kertas maupun laptop. Tapi justru saat stuck begitu, aku akan menuliskan apa...

Kecamuk yang perlahan mereda

Keresahan selalu menjadi hal yang memicuku untuk menulis. Aku ingin bercerita, namun bukan dengan lisan, melainkan tulisan. Libur panjang--super duper panjang karena sampai tiga bulan--sudah hampir berakhir. Bahkan tinggal menghitung jam. Sebab besok sejatinya perkuliahan di kampusku akan dimulai. Tapi aku masih di Makassar. Aku masih mendekam di depan laptopku. Sampai hari Jumat kemarin, aku masih berharap mama akan mengizinkanku untuk lebaran Idul Adha di Bandung saja, sembari berkuliah. Tapi setelah ngomong baik-baik dan mama tetap pada keputusannya, maka aku tidak punya pilihan selain mengikutinya. Aku 'terpaksa' harus meninggalkan kuliahku sampai Idul Adha selesai. Ngomong-ngomong, sejak aku mengikhlaskan egoku untuk mengalah pada keputusan mama, aku mulai merencanakan scheduleku selama kurang dari 2 minggu kedepannya. FYI, ini semua gara-gara aku mendaftar loker di Pos Indonesia dan Qadarullah, aku lulus sampai harus mengikuti psikotest dan wawancara di Makassar. Jadi...

Tired

dia lelah. aku bisa melihat beban yang dia bawa di pundaknya setiap hari. memang tidak mudah menjalani kehidupan yang tidak sesuai rencanamu. dia pun demikian. semenjak masuk kuliah lagi--ngomong-ngomong baru tiga hari dia kuliah--dia selalu ingin melarikan diri dari apapun yang terkait dengan perkuliahannya. dia ingat ada banyak tugas yang menantinya. dia tahu dia tidak bisa mengandalkan waktu weekend untuk mengerjakan semua tugas itu karena dia sudah berjanji akan ikut makrab kelasnya weekend ini. dia tahu dia harus mengerjakan semua tugas itu hari ini atau besok. apalagi temannya yang super rajin sudah mulai menerornya, ingin menyocokkan jawaban. apa yang mau dicocokkan? dia saja belum menyentuk bindernya sedetikpun. sejak pulang kuliah hingga sekarang, dia hanya sibuk bolak-balik blog dan folder tulisannya, sibuk mengagumi dan merindukan dirinya yang dulu. aku tahu dia bergumul lagi dengan perasaannya itu. dia mengaku suka aksara, dia mengamini bakatnya di bidang sastra. tap...